EXO dan Filosofi Tidak Jodoh

2:47 AM


"Sesuatu atau seseorang yang bukan jodoh kita, sekeras apa pun dikejar dan perjuangkan, tetap nggak akan menjadi milik kita."

Selama pandemi ini, semua rasanya datang dan berlalu begitu saja dalam hidup, termasuk cuaca. Karena belakangan lebih banyak di kosan aja, saya jadi nggak menyadari panas menyengat atau hujan deras di luar sana. 

Sampai suatu sore saya lagi goreng makanan di dapur kosan. Sambil nunggu mateng, saya bengong nyender tembok. Barulah di situ saya sadar kalau saat itu lagi hujan.

"Lho ini kan udah masuk musim hujan ya?"

Terus saya baru ngeh kalau beberapa hari ini sebenarnya air hujan udah turun deras. Yaelah, sampai segitunya ya tahun 2020 ini buat saya.

Yak, selamat datang di hari-hari penuh genangan dan kenangan.

Tentu di momen mendengarkan suara air hujan yang jatuh ke bumi, saya mendadak teringat banyak hal. Ada banyak yang terjadi dalam hidup saya di musim hujan, yang paling ingin saya lupakan dan ingat sepanjang hidup.

Momen itulah saya inget kalau musim hujan tahun lalu masih sedih karena satu orang, dan bahagia kehujanan di berbagai tempat.

Time flies.

Tahun lalu, kehujanan di sini.

Sedangkan musim hujan tahun ini ya berlalu begitu saja. Paling-paling saya mendengarkan suara hujan dari dalam kamar kosan atau di kantor. Nggak banyak juga momen-momen kehujanan karena kan nggak ke mana-mana juga selain di kosan dan kantor.

Di saat pandemi inilah, momen melihat hujan di kantor aja udah termasuk syahdu itungannya. Tapi saya nggak nyangka satu momen hujan di kantor itu membawa saya ke ruang nostalgia.

AHZEEEEEEEEEEEEEEEEEEEK.

Waktu jadwal WFO, cuaca udah mendung. Seperti yang udah saya bilang di awal kalau belakangan semuanya rasanya datang dan berlalu begitu saja, saya juga nggak inget banyak hal. Termasuk tanggal wamilnya Chen EXO yang baru saya tau agak siang setelah baca berita.

HADEUUUH.

Baca dulu:

Rekomendasi 5 lagu Chen EXO

Rekomendasi 7 Lagu Baekhyun EXO

Fakta Suho EXO

Tapi emang kadang-kadang kita tuh kalau sudah jatuh pakai ketimpa tangga. Lagi sedih karena Chen wamil, playlist Youtube Music tiba-tiba memutar lagu Paul Kim yang judulnya So Long. Lagu itu adalah salah satu playlist waktu trip akhir tahun 2019 ke Singapura dan Malaysia.

Saya makin sedih.... Karena saya jadi inget musim hujan tahun lalu gagal nonton konser EXPLORATION EXO di Malaysia.

Baca: Malaysia, 13 - 14 Desember 2019


Semua dimulai dari adanya Konser EXO di Jakarta setelah tiga tahun lamanya. SETELAH TIGA TAHUN! Saya, dan jutaan EXO-L khususnya di Indonesia sangat sangat sangat excited!

Ini tiket konser kipop-kipopan pertama yang dengan sepenuh niat akan saya beli. Saya nggak pernah berniat beli tiket konser K-Pop kalau bukan EXO. Lalu BTOB. Lalu GOT7. 

LAH BANYAK.

Jauh sebelum rebutan tiket konser, saya tentu udah belajar sungguh-sungguh dari pengalaman banyak orang. Ngedapetin tiket konser EXO ini berat banget, seberat mendapatkan dia menjadi milik saya.

ELAH BOS.

Tapi saya nggak nyangka euforianya gitu amat. Parah sih deg-degan luar biasa perkara beli tiket konser EXO. Pokoknya semua data udah lengkap tinggal copy paste. Koneksi internet pun aman banget. Pokoknya saya pasti dapet!

"ANJIR!!!!"

Saya mengumpat dalam hati, soalnya di depan ada bos.

Pukul 16.00 yang mana pembelian tiket resmi dibuka, saya udah kelar isi data dalam beberapa detik. TAPI APA??? TAPI APA YANG SAYA DAPATKAN??

ZONK.

Tiketnya habis hanya dalam beberapa detik!!!! Setelah mengumpat saya bengong dulu, nggak percaya sama apa yang terjadi dalam hidup ini. Sebegini mengerikannya kah rebutan tiket konser? Saya lemes, saya syok banget.

Sampai berminggu-berminggu. Dan rasa syok itu terus berlanjut selama satu bulan.

Setelah kegagalan itu, saya terus berusaha mencari tiket konser. FYI, saya cari tiket yang duduk ya karena umur nggak bisa bohong kan nih, takut encok kalau berdiri sama abege-abege. Tapi ternyata, mencari tiket konser dengan fee normal itu lebih sulit lagi.

YAMAAP SINI KAN BUKAN KETURUNAN RAFFI AHMAD!!!!!

UDAHLAH SEMUA UMPATAN KELUAR SELAMA BEBERAPA MINGGU.

Pernah nggak sih, kamu pengeeen banget sesuatu sampai yang sedih banget kalau nggak dapet? Saat itu saya merasa begitu.

IYA INI ALAY TAPI GIMANA DONG NGGAK BISA SAYA TUH KENDALIIN PERASAAN INI.

Jelang hari konser, saya yang nggak punya tiket nekat tetap berangkat ke Jakarta. Kebetulan saya emang udah beli tiket kereta bahkan sebelum tiket konser didapatkan. Soalnya nih, tiket kereta jurusan Jakarta cepet banget abisnya. Saat beli tiket kereta, saya cuma bertekad datang ke venue dan mencari tiket on the spot di sana. Ya pokoknya datang dulu aja.

Jangan nyerah, jangan nyerah pokoknya.


Seusai shift pagi saya terburu-buru menuju Stasiun Lempuyangan untuk mengejar waktu keberangkatan kereta. Selalu begitu setiap ke Jakarta, padahal selalu bertepatan dengan shift pagi. Sepanjang kerja pun fokus biar pekerjaan segera selesai, tapi lagi lagi selalu gagal. Ujung-ujungnya baru merasa benar-benar kelar di saat waktu keberangkatan kereta mepet.

Untungnya kantor waktu itu masih deket stasiun dan saya nggak membawa berkas-berkas apa pun sehingga nggak harus double check yang bikin saya makin ngaret. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, akhirnya saya ke Jakarta bukan karena ada tes kerja apa pun itu.

SAYA KE JAKARTA MAU NGEJAR OPPAAAAA!

Baca:

Jakarta Part 1 

Jakarta Part 2

Jakarta Part 3

Stasiun Pasar Senen saat subuh pada suatu hari di Bulan November 2019 lalu terlihat ramai anak-anak muda. Awalnya saya nggak menyadarinya, sampai akhirnya ikut mengantre KRL pertama pagi itu.

"Wait.... Ini... Mau nonton konser EXO semua??!!?!?!?!"

Saya ngebatin dalam hati karena melihat banyaknya orang yang pakai printilan EXO mulai dari kaus, tas, topi, dan lain-lain. Antara syok sama lemes. Keinget perjuangan sebulan terakhir demi mendapatkan tiket konser EXO yang begitu menguras emosi. Bener-bener menguras emosi.

Di Stasiun Pasar Senen itulah, saya melihat banyak orang dengan berbagai ekspresi. Ada yang sangat ceria berkumpul bersama teman-temannya siap bertemu member EXO. Ada yang sendirian tapi wajah sumringahnya nggak bisa disembunyikan.

Ada yang.... Kaya saya. Sendirian, wajahnya penuh harap menanti keajaiban.

Saya mengantre tiket KRL dengan sok cool dan berkenalan dengan beberapa orang yang sendirian juga. Akhirnya ada satu orang yang benar-benar bareng sama saya berlari mengejar KRL sampai akhirnya berpisah di Stasiun Pondok Ranji.

Kami senasib, sama-sama belum punya tiket EXO. Bedanya, saya cuma menempuh perjalanan delapan jam, sementara dia.... 15 jam.

Berani-beraninya saya ini menyebut fans EXO kalau perjuangannya belum seberapa ini? :")

"Mbak, itu mau nonton konser EXO juga tuh."

"Kok tau?"

"Iya, wallpaper hapenya Sehun."

OKE. BAIK.

YA PADAHAL SAYA TAU MBAKNYA JUGA MAU NONTON EXO KARENA WALLPAPER HAPENYA CHANYEOL.

Berbeda dengan mbaknya yang mau langsung ke BSD, saya justru berhenti di Pondok Ranji buat istirahat di kosan sepupu.

HAH! APA??? KATANYA FANS EXO??? BISA-BISANYA KEPIKIRAN ISTIRAHAT PADAHAL BELUM PUNYA TIKET!!!

WKWKWKWKWKWKWKWKWKWKKWWKWKWK. Sebenarnya saya udah hopeless banget dan merasa nggak akan dapet nih tiket konser, jadi yaudahlah ya istirahat dulu. Ya bener aja kan nggak dapet.


Saya yang bersedih pun akhirnya dihibur oleh sepupu. Setidaknya sore-sore dia mau menemani saya ke kantor SM Entertainment Indonesia. Lumayanlah mengobati kegundahan hati. Saya bisa nonton video klip Lotto di layar tancep.

Ke kantor Indonesianya aja dulu lah ya, ke Koreanya menyusul... Bareng Mamah Gigi dan Rafathar.

YOK SEMUA BILANG AAMIIN.

Hari itu, saya berpikir tentang definisi tidak jodoh: Saya dan member EXO sama-sama di Tangerang. Tapi nggak ketemu.

Saatnya mengeluarkan kalimat...

"Setidaknya, kami di bawah langit yang sama."

WKAKAKAKKAKA GELI.

Pada akhirnya saya pulang dengan keadaan hampa karena nggak jadi nonton konser EXO. Sebenernya udah ngide ke temen buat ke bandara kaya fans-fans yang saya lihat di Twitter, tapi langsung ditolak mentah-mentah.

"NGGAK YA MBAK. NGGAK USAH MACEM-MACEM. KAMU AJA KE SANA AKU TUNGGU DI RUMAH."

Ya udah nggak jadi, takut ilang. Pengalaman saya sebagai fangirl ini minim banget, beneran.


Di dalam kereta menuju perjalanan pulang, saya cuma bisa memandang gelap dari jendela. Masih nggak nyangka aja saya gagal bertemu EXO. Di tengah berbagai kegalauan, random banget pukul 01.00 saya buka situs online Kuala Lumpur.

Jadi Guys, setelah pengumuman konser EXO di Indonesia, penutupan konsernya ternyata di Kuala Lumpur bulan Desember.

Saya sebenernya udah feeling bahkan udah sempet bilang ke temen traveling, kayanya bakalan tanggal belasan konser EXO di KL. Begitu jadwal rilis, saya langsung mengumpat. Soalnya tanggal konser EXO adalah tanggal pulang saya ke Indonesia dari Kuala Lumpur.

"Kamu sih waktu itu diajak pulang tanggal 15 nggak mau," kata temen saya.

GILA NGGAK SIH SEMUA INI!!!!

Yang bikin saya nangis, beli tiket di KL enak banget. Nggak bikin emosi. Pas hari pembelian, saya tinggal masuk ke situsnya lalu situsnya bakal refresh-refresh sendiri sampai saya dapet antrean. 

MAU NANGIS.

"Haruskah saya sebucin ini nonton konser EXO sampai Malaysia?"

Cuma masalahnya saat itu, saya lagi di kantor dan ada nomor yang saya nggak hafal untuk isi data pembelian. Saya yang emang saat itu belum yakin akhirnya selow aja. Pokoknya kalau takdirnya nonton pasti dapet deh.

Ternyata pas balik ke kos malem-malem, tiketnya habis. Ya udah. Saya nggak terlalu obsesi juga soalnya. Ya gimana, saya belum pernah nonton konser kipop apalagi sampai di luar negeri. Agak deg-degan ngalahin deg-degan mutusin menikah..... Kata orang.

Saya kan belum tau rasanya deg-degan mutusin nikah. MUEHEHEHEHE~

Siapa sangka nih, beberapa minggu setelah itu, ada pengumuman kalau tiket EXO di KL kembali dibuka tapi cuma untuk pembelian satu tiket. Jadi ada kursi-kursi yang kesisa satu-satu itu lho. Cuma ternyata, antreannya banyak banget. Saya sampai telepon ke KL buat memastikan tiketnya masih ada.

Iya memang masih ada, tapi antreannya nggak kelar-kelar.

Serius. Saya belajar banyak banget dari beli tiket konser EXO di KL ini. Selama beberapa minggu sejak dibukanya tiket konser EXO di KL lagi, saya selalu penuh harapan besar tiap buka situsnya. Padahal ada beberapa waktu di mana saya begadang sampai subuh.

"Bisa, please bisa!!"

Ternyata nggak bisa-bisa.

Tapi suatu hari setelah berada di bawah langit Tangerang bersama EXO, di kereta dalam perjalanan pulang kembali ke Jogja, dengan keadaan pasrah dan hati yang lapang sekali tanpa harapan apa pun, ketik saya buka situsnya....

BISA! TIKETNYA ADA! DAN TIKETNYA KEBELI!

YA ALLAH LANGSUNG PANIK.

"HAH SUMPAH BELI TIKET KONSER EXO DI KUALA LUMPUR??"

"TERUS GIMANA NGGAK PUNYA TIKET PESAWAT PULANG????"

"TERUS SAYA DI SANA NONTON SAMA SIAPA??"

"WOY WOY GIMANA INI!!!"

TWITTER PLEASE DO YOUR MAGIC!!!!!!

Setelah melempar tweet dengan berbagai hashtag, akhirnya ada netizen yang nyamber. Setelah perkenalan akhirnya kami janjian buat nonton bareng dan cari penginapan. Kami juga mencari temen-temen lainnya dan bikin grup khusus. Bareng-bareng kami cari penginapan supaya bisa join room dan dapet kamar murah.

SEBUAH MOMEN PERFANDOMAN PERTAMA KALI DALAM HIDUP SAYA YANG TIDAK AKAN TERLUPAKAN. MENANGEEEEEES.

Setelah urusan teman dan penginapan kelar, kemudian yang harus dilakukan adalah reschedule tiket pesawat. Yang pertama dan utama, memastikan harga tiket pesawatnya tidak terlalu mahal. Tapi permisi monmaap harga tiket kalau hari Minggu ini sungguh nggak cocok di kantong.

Ya pokoknya saya bucin tapi masih perhitungan. Maafkan saya sobat EXO-L.

Saya yang nggak pernah mengikuti alur harga tiket pesawat mendadak jadi jago. Tiap hari, tiap jam, saya pantengin sampai hafal kapan harga tiket akan naik dan turun. Tapi tetep nggak ada yang sesuai budget karena waktu kepulangan saya Hari Minggu. Sedangkan hari-hari selain itu harganya masuk di kantong, tapi nggak masuk di jumlah cuti.

PUSING.

Satu minggu sebelum konser, akhirnya saya berberat hati melepaskan tiket konser itu. Apalagi orangtua juga berat kalau saya pulang ke Indonesia sendirian karena belum pernah kan. Selain itu, saya masih punya pertimbangan rasa capeknya kalau jadi nonton konser sedangkan beberapa jam kemudian udah harus kerja lagi.

Setelah membuat coret-coretan pertimbangan kalau nonton dan nggak nonton, ternyata pilihan terbaiknya memang nggak nonton dulu.

Lagi-lagi saya harus TWITTER PLEASE DO YOUR MAGIC!!!!!!

Saya menjual tiket konser EXO yang didapatkan dengan sangat emosional. Gimana dah rasanya campur aduk, sesuatu yang udah didapetin susah payah, udah digenggam, tiba-tiba harus diikhlaskan ke orang lain. Banyak banget pula yang mau beli. Nggak cuma dari Indonesia aja tapi dari KL juga. Tapi dasarnya niat nggak niat, baru beberapa hari kemudian saya bales-balesin. WKWKWKWKWKWKWKWK.

PHP YANG SESUNGGUHNYA.

Beberapa hari sebelum berangkat ke Singapura barulah saya menetapkan pembeli. Kaya mau nggak mau, harus dan nggak mau. Lalu kemudian tiket kesayangan itu saya lepaskan.... Itu pun saya lepas karena ngerasa kaya pembelinya juga niat nggak niat gitu belinya. Jadi kalau dia nggak jadi beli ya udah. Emang susah ya kalau belum ikhlas-ikhlas banget.

Untungnya saya nggak inget konser lagi selama beberapa hari liburan. Saat itu masih bisa berpikir, kita nggak bisa dapetin semua yang kita mau. Udah kurang seneng apa kan akhir tahun bisa nge-trip ke dua negara. Tapi pas di Central Market, saya ketemu rombongan dari Indonesia yang pakai pernak-pernik EXO.

"Gul, Gul, jangan-jangan itu temen satu grupmu Gul," Kata Gales dan Sherly.

Saya cuma bisa diem. Menatap nanar. Saya juga mau nonton EXO.

Eh udah bahagia malam harinya di Menara Petronas, saya yang lagi bersyukur memandang gemerlap lampu tiba-tiba sedih lagi.

"GUUUL EXO GUL!!"

Bukan Guys, Chanyeol sama Baekhyun nggak lagi motoran naik vespa di sepanjang KLCC.

Tapi di seberang jalan, ada videotron yang menampilkan cuplikan konser EXO di Axiata Arena Kuala Lumpur. Sungguh ya dunia suka bercanda....

Sabtu itu: Siangnya saya kembali ke Indonesia, malamnya EXO konser.


Besoknya, tanggal 14 Desember 2019 waktu itu, sebelum akhirnya check out dan menuju bandara, saya bangun tidur dengan keadaan miris.

"Gila, lagi-lagi saya berada di bawah langit yang sama dengan EXO, kali ini di bawah langit Kuala Lumpur. Tapi lagi-lagi nggak bertemu.."

Terlebih lagi, dalam perjalanan menuju KLIA2 waktu itu, saya melihat plang "Bukit Jalil".

"Pak, di situ Axiata Arena?"

"Iya."

Saya udah mau nangis. Di dalam sana pasti banyak yang udah berdiri antre buat masuk ke venue, pembeli tiket konser saya juga pasti udah antre, sementara saya harus ke bandara, pulang ke Indonesia.

Dua kali. Dua kali saya dan EXO berada di bawah langit yang sama. Langit Tangerang dan Langit Kuala Lumpur. Tapi saya tetap nggak bisa ketemu. Nggak berkesempatan nonton konsernya.

Yang namanya nggak jodoh, mau jaraknya sudah sejengkal, tetap saja nggak ketemu.

Sedih tapi udah nggak bisa nangis. Ya mau gimana lagi, sudah terjadi.


Di bawah langit KL

Momen wamilnya Xiumin, Suho, Chen yang mungkin akan segera disusul member lainnya mengingatkan waktu banyak temen-temen yang mempertanyakan pas saya nggak jadi nonton EXO di Kuala Lumpur.

"Yakin nggak nyesel?"

"Ini kesempatan terakhir lho, tahun depan udah pada wamil kayanya."

Dan ternyata benar. Padahal saya mikirnya tahun 2020 akhir tahun bisa nonton konser EXO atau SM Town di KL karena udah tau cara-caranya.

HUHUHU MENANGEES. Siapa sangka ya, 2020 ternyata 3 member sekaligus wamil. Padahal saya pikir bakalan Suho aja dulu tahun ini. Ditambah lagi, 2020 ada pandemi.

Kalau ditanya penyesalan, nggak bohong kalau rasa menyesal itu ada. Nggak mungkin nggak. Dulu waktu melepas tiket nggak sebegitu menyesalnya. Tapi belakangan jadi suka inget momen-momen itu. Karena bisa jadi EXO kumpul lengkap lagi lima tahun lagi.

Selesai wamil semua, umur member EXO udah kepala tiga. Ya saya juga. WKWKWKKWKWKWWKWK. Semoga panjang umur ya pemirsa.

Kadang kalau mikir gitu sedih juga. Kenapa baru kepikiran nonton konser EXO dan lain-lain dan lain-lain. Padahal kan sejak 6 tahun lalu, saya tumbuh kembang bersama EXO. Comeback demi comeback, juga menandai kehidupan saya. Dari EXO masih 12 member sampai sekarang tinggal sembilan.

Ketika lagu Growl booming, saya masih mahasiswa.

Kemudian waktu web drama EXO's Next Door tayang, saya udah menuju hari kelulusan. 

Pas comeback lagu Monster, saya yang udah kerja sedang di depan laptop dengan wajah lemas karena sedang begadang bikin konten.

Ketika MV Lotto rilis, saya terhibur banget karena di tengah terpaan revisi konten saya masih bisa joget.

Saat EXO comeback dengan lagu Ko Ko Bop, saya udah jadi content writer dan nulis tentang EXO. 

Ketika comeback dengan lagu Don't Mess Up my Tempo, saya udah jadi social media officer lagi.

Sampai saat ini kalau liat foto EXO, saya masih senyum sambil ngomong, "Nggak nyangka ya selain tumbuh memperhatikan diri sendiri, orangtua, dan keluarga, saya juga memperhatikan 9 orang yang jauh di Korea Selatan yang nggak kenal saya."

Baca: Review EXO

Wamil pertama member EXO


Menjadi bucin oppa-oppa Korea adalah hal yang terjadi di luar dugaan. Nggak pernah terbayangkan setelah punya cinta pertama di dunia per-Koreaan tahun 2009 lalu yang adalah Kim Bum karena kegemesannya di Boys Bofore Flowers, beberapa tahun kemudian ada 12 oppa yang masuk dalam hidup saya!!!

Gile. Padahal selama rentang waktu itu, saya cuma kenal pemain sepakbola dan pebalap MotoGP. Dari yang suka pria-pria lari-lari di lapangan, pindah ke pria-pria yang dance di atas panggung.

Kebetulan waktu mengenal EXO, saya masih jadi mahasiswa yang emang cuma kuliah, penelitian, piknik, kuliah, penelitian, piknik. Saya punya banyak waktu luang buat menghafal 12 member EXO dan membedakan wajah mereka.

Sesungguhnya pusing, saudara-saudara...

Kayanya butuh waktu hampir satu bulan buat saya bisa membedakan wajah 12 member dan mengenali semuanya. Hari-hari saya yang selow diisi dengan menonton video klip EXO, melihat semua reality show serta variety show. Entah udah berapa ratusan video di Youtube yang saya habiskan.

Demi apa pun, kesan pertama melihat member-member EXO ini gemes banget. Sebagai awam di dunia perkipopan, yang saya tahu image boyband tuh ya sangar-sangar gitu. Sampai akhirnya saya menonton Chanyeol dan Baekhyun ketawa-ketawa melakukan berbagai kebodohan yang gemes banget.

DUH AMPUN LUCU BANGET NIH OPPA-OPPA.

By the way, bias pertama saya adalah Chanyeol. Suka banget liat orang yang punya kepercayaan diri sebesar Mas Cahyono ini. Apalagi dulu saya kan pemalu abis nih ya kan.

WKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWKW nggak denk.

Tapi setelah ratusan video ditonton, semuanya jadi bias. Semuanya pokoknya saya sayangi. Nggak pilih kasih.

CKCKCKCKCKCKCKKC TOBAT ELG.

EXO 2015, kangen.


Tahun 2016, akhirnya saya resmi melepas status mahasiswa dan berubah menjadi pekerja. Pekerjaan pertama saya itu sebagai social media officer alias mimin. Di sela-sela mencari ide, membuat konten, revisi bertubi-tubi, setidaknya saya tetap punya suatu kesenangan. Nonton EXO jadi penghiburan di saat abis diomelin gara-gara bikin konten jelek atau saat otak udah buntuuu banget saat harus revisi berkali-kali.

Sampai suatu hari, dengan sangat randomnya, saya memiliki sebuah keinginan baru.

"Mau nulis tentang EXO dan Korea-Koreaan!"

Hal itu bermula dari saya yang saking sibuknya nggak sempat fangirling. Mau nggak mau, tiap hari saya harus mengetik EXO di mesin pencarian supaya nggak ketinggalan berita terkini.

Dan saya melakukannya. Kaya udah jalan dari Allah. Tiba-tiba ada lowongan pekerjaan yang sesuai tapi sama sekali nggak pernah terpikirkan dalam hidup.

Saya mengirim berkas satu hari setelah masa pendaftaran ditutup karena emang telat dapet info. Ya udah nekat aja nih ya kan. Ternyata dipanggil tes, tapi pas hari tes saya nggak bisa dateng karena pekerjaan.

Tapi emang bener, apa yang jadi milik kita nggak akan pernah melewatkan kita.

Baca:

Jejak Perjalanan 5 Tahun EXO

Jejak Perjalanan 6 Tahun EXO

Jejak Perjalanan 8 Tahun EXO

Dua minggu kemudian saya dipanggil lagi untuk tes, tapi ini udah beda posisi dengan yang waktu itu saya daftar. Ya udah saya berangkat tes ke kota sebelah. Lagian kebetulan emang bulan itu terakhir saya bekerja padahal saya belum ada tujuan.

Saya cuma pengen resign, istirahat, nonton Drama Korea.

MANTAP UDAH KAYA ANAKNYA RAFFI AHMAD NGGAK TUH???????

Tapi nggak nyangka ya saya keterima kerja lagi yang mana saya bisa nulis EXO dan kipop-kipop ini!!!! Ya walaupun pada kenyataannya nulis EXO dan Korea-Koreaan jadi selingan aja karena ada banyak berita yang lebih penting untuk disampaikan ke masyarakat. Tapi tentu saya tetep happy! Bisa nulis apa saja tentang EXO kapan pun, atau sekadar nulis drama terbaru yang ditonton.

Dan ternyata ini menjadi jalan karier sampai sekarang. 

Alhamdulillah. Terima kasih SM Entertainment yang telah menerbitkan EXO. Saya boleh daftar jadi socmed @weareone.exo nggak nih?

*MAKIN HALU*


2013, awal dari segalanya.

Banyak yang nanya, "Hiiih kenapa sih suka sama oppa-oppa?"

Selain comeback demi comeback EXO menandai kehidupan saya, I have to say this: Mengenal EXO membuat saya bertemu kehidupan yang baru, bertemu mimpi yang baru, dan bertemu orang yang baru. Yang paling penting, kalau bukan karena 'pengen punya kerjaan nulis tentang EXO', saya nggak mungkin punya pekerjaan sekarang dan beberapa pekerjaan tentang K-Pop lainnya.

I can't tell you why EXO bring me to a new dreams or someone new but yehet, they did it.

Ketika seseorang mulai terombang-ambing di lautan atau tersesat di daratan, suatu hari ia akan mendapatkan arahnya juga. Entah menemukan atau ditemukan. Dan saat seseorang sudah menemukan arahnya, ia akan berubah. Seperti saya.

Jadi makin alay.

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA ASTAGHFIRULLAH.

You Might Also Like

0 komentar

Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk! Btw kalau mau komen bisa lewat PC ya :)

Subscribe