Hari ke-9: Bagaimana Jika Aku Tak Sampai Padamu?

4:45 PM

Januari 2015.
Hampir 100 hari setelah kepergianmu.

Sumber Visual: mediamarmalade.com

Pertemuan pertama kita memang pada waktu yang tepat. Namun pertemuan kita ada di ujung waktumu, di penghabisan waktu. Aku beranikan diri jatuh padamu tanpa takut tak tertangkap olehmu. Atau oleh nasib baik.

Aku sudah sering kehilangan. Kepergianmu entah kehilangan keberapa. Maka aku tidak menangis sampai tersedak. Sudah kuresapi baik-baik makna kehilangan pada kepergian seseorang sebelum kamu. Dan sejatinya kehilangan itu pasti.

Katamu semua akan baik-baik saja. Kamu bilang aku hanya tertinggal beberapa ratus langkah darimu. Kamu suruh aku bergegas untuk menujumu. Kujanjikan dengan penuh derai air mata agar menepati garis akhirmu yang terus berpindah. Aku terseok-seok dalam perjalananku yang seorang diri. Bagaimana aku akan tiba di sisimu jika setiap melangkah, di depan sana pun kamu melangkah. Dengan segala petaka hidup, langkahku selalu semakin pelan. Terus memelan.

Dan kamu pun sudah semakin jauh.

Ah, aku terhempas pada realitas, kembali pada memori awal. Bagaimana bisa aku mengejarmu dengan kaki? Sedang saat jumpa pertama denganmu, aku yakin melihatmu tinggi di atas langit.

You Might Also Like

0 komentar

Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk!

Subscribe