Backpacker Singapura - Malaysia Bagian 3: Menyusuri Orchard Road hingga Little India

1:12 AM


"Sher... Tahu nggak sekarang jam berapa?," tanya saya ketika bangun tidur liat ponsel, lalu ganti menatap Sherly yang udah duduk di sebelah saya.

"Iya tahu... Setengah sembilan kan," jawabnya pasrah. Padahal, sejak semalam kami udah bayangin jalan-jalan pagi di Haji Lane. Pupus sudah.

Setelah bangun kesiangan yang membuat itinerary akhirnya harus berubah dan mengikhlaskan satu destinasi, akhirnya saya, Gales, dan Sherly, menikmati waktu aja. Yah, kami kan nggak bisa mengulang waktu, cuma bisa menikmatinya aja. Yang terpenting jangan disesali, udah jauh-jauh sampai Singapura kok menyesal.

Baca dulu:

Setelah semua selesai mandi dan membereskan barang-barang untuk bersiap check out, kami menikmati sarapan di Jamila Boutique Inn berupa roti dan minuman hangat. Tentu aja berharap sarapannya nasi padang, karena makan tak bisa disebut makan jika tak mengonsumsi nasi, bukan?

WKWKKWKWKWKWKWK.


Akhirnya pagi itu saya bertingkah selayaknya turis, mengambil roti dan selai kacang yang enak banget. Mencampur kopi sachetan alias indocafe dengan susu yang membuat pahitnya terasa enak banget di lidah. Pagi itu, sambil sesekali mengobrol dengan orang Indonesia di sebelah meja, saya menikmati pemandangan dari balkon penginapan, menyesap kopi dengan khidmat, nggak mau ketinggalan menikmati momen ngopi di luar negeri meskipun ngopinya indocafe.


Sambil menghabiskan sarapan, saya dan Gales mencoba memasang kartu Malaysia. Untuk kartu di Malaysia, harus download aplikasi TuneTalk dulu dan aktivasi. Sayangnya saat itu kami coba berkali-kali gagal. Sampai akhirnya dengan rasa sok tahu kaya yang sudah-sudah-sudah, saya berkesimpulan kalau kartunya mungkin aja belum aktif karena belum di Malaysia. Nggak ngerti teori dari mana, tapi Gales kok ya saat itu manut-manut aja sih. WKWKWKWKKWKWKWK.

Sekitar pukul 10.00, kami memutuskan check out dan menitipkan barang-barang dulu, karena kami masih akan berkeliling ke Orchard Road dan Little India, serta Chinatown kalau sempet. Ya dilakoni aja pokoknya, dinikmati.

Waktu googling, kami punya tiga pilihan MRT buat jalan-jalan di Orchard Road. Setelah baca-baca dengan berbagai prtimbangan, kami memutuskan untuk berhenti di Dhoby Ghaut bukan di Orchard-nya. Begitu turun kami menyusuri sepanjang jalan buat menemukan spot foto atau jalanan khas Orchard. Ya sebenernya itu juga udah khas sih, tapi kami kok masih ragu-ragu. Kami tuh bener-bener yang, "Mana nih? Ke kanan apa ke kiri?" Gitu aja terus sampai nyerah. Apalagi Singapura hari itu mataharinya lagi cerah banget.


Kami akhirnya memutuskan balik ke MRT Orchard, keluar-keluar udah di dalam mal aja. Begitu pintu keluar, akhirnya kami menemukan Orchard Road! Meski udah di jalur yang tepat saya tetep sempetin nanya sama mbak-mbak dan seperti biasa nunjukkin explore Instagram dengan hashtag Orchard, sekadar memastikan kalau ini spot yang benar. Tapi yang ditanya juga kayanya nggak terlalu yakin, jadi lebih baik saya yang yakin.



Kami menyusuri Orchard Road yang terlihat fancy, tanpa tujuan. Tapi tiba-tiba, Gales teriak. Ya Guys, Gales kalau excited tuh teriaknya nggak kontrol.

Dan kali ini, dia teriak karena menemukan es krim di jalanan Orchard yang emang dia pengen banget. Itu lho, es krim yang dibalut roti. Harganya cuma 1,2 SGD aja.


Momen menikmati Orchard kami pun cuma sekadar jalan-jalan dan duduk makan es krim, lalu menyadari kalau hari semakin siang dan perut mulai berbunyi.

"Gini nih kalau perut belum dimasukin nasi padang..."



Langsung aja kami memutuskan untuk pergi ke Little India ke stasiun MRT dengan nama yang sama. Karena posisinya udah cape, haus, dan laper, kami nggak mau sok-sokan explore pas sampai di MRT Little India. Langsung aja kami nanya sama petugas MRT, Little India tuh ke mana.

"Little India-nya mau ke mananya?," kata petugasnya, in English of course.

"Center!," jawab saya sekenanya.

WKWKWK ya ke pusatnya pokoknya lah.

Untungnya petugasnya ngerti dong langsung nunjukkin jalan yang tepat. Jadi, keluar dari MRT langsung belok kiri ikutin jalan. Food court pun terlihat beberapa langkah setelah keluar belok kiri, dan membuat kami rasanya pengen ke situ aja tapi menahan diri.

"Jalan-jalan dulu aja baru makan!"

"Woyajelas."





Little India berwarna, khas, dan cerah. Beruntung waktu ke situ Singapura lagi cerah banget, jadi Little India benar-benar berwana dan menyenangkan diliat. Memang agak crowded terutama lalu lintasnya dari semua destinasi yang kami datangi, but still oke lah.

Gils ini kenapa jadi campur-campur Bahasa Inggris dan Indonesia kaya anak Jaksel.


Satu keinginan di Little India ini cuma foto di tembok warna-warni landmark Little India alias Residence Of Tan Teng Niah, yang nggak ngerti nemunya di mana karena ada banyak gang. Tapi emang ya, kalau sesuatu yang kita kejar tuh kok kayanya nggak nemu jalannya karena terlalu spanneng ngejar.


Begitu kami masuk sana masuk sini dan memutuskan udahan aja buat makan, tiba-tiba gedung Residence Of Tan Teng Niah dengan tembok warna-warni muncul di depan mata!

HUHU jadi juga foto di tembok Residence Of Tan Teng Niah Little India.

Tembok warna-warninya itu ada di belakang food court-nya. Padahal cuma tembok berwarna tapi suka aja. Bagus!



Setelah foto-foto sampai puas, akhirnya kami masuk ke dalam food court di Little India yang bentuknya mirip-mirip Beringharjo Jogja.

Kami muter sana-sini dan ditunjukkin area makanan halal, akhirnya memutuskan untuk makan di salah satu kedai dan memilih tidak lanjut ke Chinatown karena saat udah pukul 13.00.


Saya, Gales, dan Sherly yang belum tau medan menuju Malaysia, memilih berangkat lebih cepat biar nggak terburu-buru. Akhirnya kami segera balik ke penginapan buat ambil barang-barang nih dengan sedikit cemas dan gelisah karena menurut itinerary waktu otw ke Woodland udah lewat. Saking gelisahnya, begitu liat pintu MRT yang udah mau ditutup, Sherly ngajak lari kenceng. Tapi nggak tau kenapa ya hati kecil mengatakan, "Wah ini kayanya nggak nyampe". Apalagi saya larinya nggak paham lagi kenapa malah gandengan sama Gales. Lari yang ragu-ragu itu akhirnya membuat saya dan Gales memilih berhenti tepat di pintu MRT, sedetik kemudian pintu tertutup. Pas nengok ke kanan, Sherly ternyata udah masuk.

Saya langsung lari dari luar berusaha memberi sinyal ke Sherly kalau saya dan Gales nggak naik MRT itu. Parah sih sekalinya adegan lari ngejar MRT gitu kenapa harus sama cewe. Setelah yakin nggak yakin Sherly liat saya di luar MRT, akhirnya saya sama Gales atur napas. Saya berusaha konekin ponsel sama wifi public tapi gagal, soalnya paket data Singapura ada di ponsel Sherly. Kami berdua panik banget tapi masih tetep ketawa, soalnya emang tugas Sherly tuh dokumentasi, bukan mikirin rute atau apa pun itu. Jadi kami takut dia nyasar ke mana.

"Kok ya yang pas ilang Sherly...," Gales akhirnya buka suara.

"Duh... Dia tau nggak ya harus berhenti di Nicoll Highway?," Kata Gales lagi.

Saya cuma ketawa aja dan yakin Sherly pasti bisa. Soalnya pas dari Marina Bay Sands ke penginapan, saya yang udah capek dan nggak bisa mikir, bisa memercayakan rute ke Sherly.

"Lagian ngapain sih mental Indonesia dibawa pakai ngejar MRT. Padahal nunggu MRT selanjutnya juga nggak lama, cuma berapa menit, di sini juga tepat waktu, pakai dikejar," gumam saya ke Gales pas kami udah naik MRT selanjutnya.

Begitu tiba di Nicoll Highway, Sherly ternyata udah nunggu di luar. Pertemuan kami langsung disambut tawa.

"Tenang, tenang, kalau ke Nicoll Highway aku hafal. Kalau tadi ini ke rute lainnya lah udah, ilang aku," jawab Sherly.


Perjalanan kami dari keluar MRT sampai penginapan akhirnya dipenuhi tawa nggak kelar-kelar. Setelah ambil barang-barang, kami balik lagi ke MRT Nicholl Highway. Langkah kaki saya melambat, udah mulai sok dramatis ini karena bakalan ninggalin MRT yang jadi pusat lalu lintas selama dua hari ini.

See ya, Nicholl Highway! Kami ke Malaysia dulu.


Nah dari MRT Nicholl Highway kami menuju MRT Woodland yang menempuh waktu 45 menit. Valid.

Ingat urutannya! Naik bus dari stasiun MRT Woodland ke Woodland Checkpoint (Imigrasi Singapura) - Imigrasi Malaysia - Terminal Larkin - Terminal Bersepadu Selatan (TBS bukan BTS).


Di sepanjang perjalanan itu saya sempat memandang sisi lain Singapura yang bukan bagian pusatnya (Kayanya sih) (Sok tau aja). Karena takut sedih akhirnya saya sempetin kerja, ngetik dulu di hape karena berhutang beberapa tulisan yang belum saya draft. Maklum kan bukan kakak angkatnya Rafathar. Saya masih harus cari pundi-pundi rezeki di saat seperti ini. Alhamdulillah perjalanan 45 menit itu saya bisa menyelesaikan dua tulisan pas banget ketika pintu MRT kebuka di Woodland jelang pukul tiga sore.

Petualangan baru segera dimulai lagi. Thank you, Singapura!

"Eh eh Bentar coy... Duit Singapura kita masih banyak nih... Habisin dulu," Kata Gales menghentikan langkah.

APA?!!?!!?!?! Saya sama Sherly langsung nyengir lebar banget, mau borong jajan!

You Might Also Like

0 komentar

Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk! Btw kalau mau komen bisa lewat PC ya :)

Subscribe