Melangkah Menuju Senyumnya

7:22 PM



Suaranya terdengar lagi. Kali ini lebih jelas dari 100 hari lalu sejak aku memutuskan pergi, dan dia memilih membiarkanku begitu saja. Dalam suaranya kali ini, tak ada tanda-tanda perdamaian. Aku tetaplah si virgo, dia tetaplah leo. Kita berdua terlalu gengsi, kita berdua terlalu malas mengucap cinta duluan. Tapi urusan mengucap selamat tinggal, kita justru berlomba. Dan kali ini, lagi-lagi dia mengucapkannya.

***

Aku terbangun dengan telinga yang sakit. Pendaratan sebentar lagi. Rupanya aku tertidur dalam perjalanan udara yang tak sampai satu setengah jam.

"Ah shit, suara itu lagi," umpatku dalam hati sambil membenarkan posisi duduk. Tentu saja sambil mengecek wajah dengan tangan, kalau-kalau ada yang 'tercetak' selama aku tertidur.

Setelah sadar dan berkedip beberapa kali bersiap menghadapi dunia nyata, aku menghela napas sebagai bentuk kekesalan. Aku kembali mengingat bagaimana dia meninggalkanku bahkan sebelum kita memutuskan bersama. Bagian menyebalkannya, bahkan di dalam mimpi pun aku masih jadi pihak yang ditinggalkan.

"Dasar laki-laki sialan," umpatku lagi, masih dalam hati.

Pesawat yang kunaiki akhirnya mendarat sempurna di Changi Airport. Ini kali ketigaku berada di Singapura. Bedanya, ini perjalanan pertamaku sendirian dan berjudul liburan. Dua perjalanan sebelumnya hanyalah urusan pekerjaan yang membuatku berangkat pagi pulang larut karena sibuk meeting. Maka tak heran, sebenarnya perjalanan yang sendirian ini membuatku deg-degan setengah mati. Bagaimana jika aku tersesat?

Wajahku pasti sudah pucat saat ini. Aku perhatikan orang-orang berlalu lalang. Banyak yang santai, tapi tak sedikit yang tergesa-gesa. Sedangkan aku? Tidak santai dan tidak tergesa-gesa. Waktu check in menuju hotel masih enam jam lagi. Sebenarnya aku sudah membuat itinerary, tapi rasanya ragu melangkah. Aku pun memutuskan duduk, memastikan sekali lagi mau ke mana dan rute yang akan aku naiki.

"Dari Indonesia, Mbak?"

Aku hampir loncat mendengar suara pria yang berat tapi terkesan seksi. Aku menengok, tepat di sebelah kananku ada sesosok pria yang tersenyum ramah.

"Hai, iya. Kamu juga?," tanyaku balik dengan canggung.

"Ya jelaslah, kan dia ngomong pakai logat Indonesia," jawabku di dalam hati.

"Iya dong. Wah kebetulan banget. Mbaknya sendiri aja?," jawabnya semakin ramah.

Aku cuma meringis sambil mengangguk. Sebenarnya, aku sedang mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala. Perawakannya tinggi dan badannya proporsional. Kulitnya tak terlalu putih, lebih tepatnya tak lebih putih dariku which is good. Dia memakai sepatu Nike berwarna hitam dan celana jeans warna senada. Kemeja kotak berwarna biru dan abu-abu tak dikancing, memperlihatkan kaus polosnya yang juga berwarna hitam. Not bad. Style-nya tipeku banget.

"Wait, kenapa pikiran jadi ke mana-mana? Emang kalau jomblo tuh siapapun yang ditemuin dianggap berpotensi menjadi jodoh," kataku pada diri sendiri.

"Ngapain Mbak sendirian ke sini?,"

"Liburan."

"Sendirian?"

"Iya. Kenapa?"

"Cuma ada dua alasan kenapa seorang wanita bepergian sendirian... Satu, karena patah hati... Dua..."

"Jomblo?," potongku langsung.

"Weits, bukan mbak. Pusing kerjaan."

Aku tersenyum simpul.

"Memang aku keliatan kaya mbak-mbak karier? Nggak ada pikiran gitu kalau aku masih kuliah,?

"Hmm... Saya pikir tadinya malah udah berkeluarga."

Mataku melotot, dia tertawa. Tawa yang renyah dan menyenangkan, aku tak menampik.

"Becanda, Mbak."

"It's ok," jawabku singkat.

Pikiranku jadi terdistraksi, padahal aku harus fokus mencari rute MRT menuju destinasi pertamaku.

"Mbak, Mbak, beneran sendirian?,"

Lagi-lagi dia menanyaiku yang sedang berjibaku dengan ponsel.

"Iya, masnya mau nemenin?," jawabku dengan nada meninggi karena mulai kesal diajak ngobrol terus.

"Boleh!"

Kedua alisku terangkat, tak percaya apa yang baru aku dengar.

"Hah gimana mas?"

"Saya temenin. Saya juga belum lagi ada agenda penting. Tenang, saya bukan orang jahat kok."

Mataku memicing menatapnya. Memang sih kalau diliat bukan orang jahat, tapi sebaiknya tak terlalu akrab dengan orang asing kan?

"Tapi tunggu, daripada sendirian garing, mendingan emang ada temennya kali ya?," aku menimbang-nimbang dalam hati.

"Boleh deh," jawabku pura-pura tidak terlalu excited. Sebagai virgo, menjaga gengsi itu perlu banget.

"Oke, kenalan dulu!," katanya mengulurkan tangan dengan senyum yang sama.

"Nggak usah. Kita nggak tau bakalan berpisah di perjalanan yang mana," kataku berdiri, bersiap berjalan. Kalau dipikir-pikir, aku sudah menghabiskan waktu hampir satu jam di bandara. Sungguh membuang waktu sementara besok sudah kembali ke Indonesia.

Yap, perjalanan ini memang nekat. Aku hanya baru patah hati tiga bulan lalu dan kini sedang dalam proses membenci laki-laki yang pernah kusukai karena melihatnya sedang dekat dengan temanku. Aku patah hati dan kesal bersamaan, hingga membuatku nekat menggunakan waktu libur sabtu mingguku untuk terbang ke Singapura. Bukankah proses menyembuhkan luka memang harus dengan melakukan hal-hal yang tak terduga?

Mungkin.

Aku berjalan santai sementara pria asing di belakangku mengikuti sambil sibuk menggeret kopernya. Karena cuma satu hari, aku hanya membawa ransel dan satu tas slempang.

"Destinasi pertama mau ke mana?," tanyanya terengah-engah karena mengejarku berjalan.

"Masjid Sultan."

"What? Woah!," jawabnya yang membuatku sedikit geli.

Memang amazing banget ya kalau mau ke masjid?

Layar menunjukkan kalau bis yang akan mengantar kami ke Terminal 2 akan tiba dalam enam menit. Aku memilih duduk, tetap mempertahankan gengsi untuk mengajak ngobrol. Pura-pura sibuk memainkan ponsel padahal semua grup pekerjaan sudah di-mute.

"I pray for all your love, girl our love is so unreal, I just wanna reach and touch you, squeeze you, Somebody pinch me.."

Diam-diam aku menyipitkan mata, fokus mendengar suara pria itu yang sibuk bersenandung.

"Jason Chen? Really? Ada yang mendengar dan hafal lagu itu?," teriakku dalam hati.

Tetap kutahan menanggapi senandungnya, membiarkan enam menit berlalu tanpa percakapan hingga bus tiba. Meski sedang berdua, aku tetap pura-pura sendirian. Diam-diam aku puas melihat pria yang tak kukenal itu beberapa kali mengejar langkahku yang begitu cepat. Sebenarnya aku lelah mengejar! Laki-laki sialan yang dulu kucintai itu membuatku mati-matian mengejar, mengupayakannya. Senang bukan menjadi laki-laki yang kucintai itu?

***

Kami tiba di Arab Street dan bersama-sama menyusuri jalan menuju Masjid Sultan. Aku memang berniat melaksanakan Salat Dhuha di sana. Keinginan yang pastinya nggak akan terduga oleh siapa pun.

Setengah jam kuhabiskan dengan berdoa, bahkan jika boleh jujur air mataku sedikit menetes. Setelah menjalani kisah cinta yang kandas dan akhirnya hati terbuka lagi namun pada orang yang salah, benar-benar menampar diriku.

Keluar dari masjid aku melihat pria asing itu sedang duduk menungguiku. Dua tangannya sibuk menggenggam sesuatu, yang setelah kudekati adalah kopi kaleng yang dibelinya di vending machine di sebelahnya.

Hanya tersenyum, dia menyodorkan satu untukku. Aku menerimanya dengan senyum sebagai tanda terima kasih.

"Oke, kita jalan-jalan di sekitar sini?,"

"Yap!," jawabku kali ini mulai excited.

Meski berdua, kami tetap memutuskan me time. Aku dan dia sama-sama mendengarkan musik memakai headset masing-masing, menyusuri sepanjang Arab Street hingga Haji Lane. Rasanya menyenangkan, sampai pria asing itu menubruk tubuhku pelan.

"Lagi dengerin lagu apa sih?"

"Nggak usah tau."

"Kenapa?"

Dengan cepat ia mengambil ponsel yang kugenggam dan melihat playlistku yang berisi lagu Filipina. Belakangan memang playlistku berisi penyanyi Filipina. Mungkin terkesan aneh, but yes i like it.

"Hah?? Ini penyanyi dari negara mana?," tanyanya kaget.

"Filipina."

"Seriusan? Kamu ngedengerin ini?"

"Kenapa? Aneh ya?"

"Nggak apa-apa, biasanya banyak yang dengerin K-Pop atau J-Pop, tapi ini Filipina. Unik banget lagi!"

Aku tertawa. For the first time, ada yang tidak memicingkan mata ketika mengetahui playlist-ku ini. Bahkan laki-laki yang dulu kucintai, yang dekat denganku, geleng-geleng kepala dengan playlistku. Berkali-kali bertanya mengapa aku mendengarkan musik itu dan sesekali mengatakan aneh.

Jadi begini rasanya ada yang menerima diri kita.

"Laper nggak?," tanyaku yang sudah mulai keroncongan.

"Kirain kamu superhero yang nggak bakal kelaperan. Daritadi aku udah laper banget!,"

Tawaku meledak. Entah mengapa kata-kata yang diucapkannya terlalu lucu.

"Kamu mau makan apa?," tanyanya sambil berhenti dan meletakkan kedua tangannya di pinggang, melihat sekeliling.

"Di situ," kataku menunjuk suatu kafe di sebuah gang yang ada Haji Lane. Sejak pertama kali ke sana, ingin sekali mencobanya. Tempat duduk di kafe itu berisi quote-quote lucu.

"Oke, ayo!," jawabnya langsung berjalan cepat mendahuluiku.

Lagi-lagi aku bengong sebelum menyusulnya. 

"Dia nggak menanyaiku itu makanan apa atau harganya? Seriusan? Pasti anak sultan!," ungkapku dalam hati.

Tentunya sesuai dugaanku dalam hati, harga menunya tak bisa dibilang murah. Agar lebih aman, aku hanya memesan roti bakar dan spagheti, dan es teh tarik.

Setelah memesan makanan, aku jadi semakin tertarik padanya.

"Sori ya kalau kamu harus ngikutin aku. Mungkin aja kamu nggak setuju atau nggak cocok ke sini," ucapku mulai melunak.

"No. Santai aja. Kita harus mencoba sesuatu kan?"

Matilah aku. Kenapa senyumnya semakin lama semakin indah dilihat?

"So, nanti malam ada rencana ke mana?," tanyanya.

"Marina Bay dong pastinya. Memang ada tempat lebih indah menghabiskan malam selain di sana?," jawabku berbinar.

"Sendirian?,"

"Why not?,"

"Mau ditemani?,"

Senyumku agak memudar, karena keterkejutan.

"Memangnya kamu nggak ada agenda?,"

"Nggak ada, santai aja."

"Oke, we will meet up there at 7pm," jawabku sambil tersenyum menerima pesanan yang baru saja datang. Entah kenapa aku jadi lebih melunak dari biasanya.

***

Aku melambaikan tangan melihatnya datang dari jauh. Di area yang tak terlalu luas itu, saling menemukan bukan hal yang sulit. Dan sebenarnya, aku senang menemukannya.

Aku sudah duduk di tempat yang strategis di mana bisa melihat Marina Bay Sands bermandikan cahaya dan Merlion yang selalu penuh sesak di sisi kanan sana.

Dia setengah berlari ke arahku, dengan senyum yang luar biasa membuatku senang.

"Wow, orang patah hati emang punya power lebih ya!," katanya yang tampak chill ketika duduk.

"What? Siapa yang patah hati?,"

"Kamu lah."

"Hahahaha... Emang keliatan ya?,"

"Nggak mungkin ada cewe yang terbang ke sini sendirian, kalau bukan patah hati."

"Seperti katamu, bisa jadi pusing kerjaan kan?"

"Then you should come here with your friends."

Aku tersenyum. Dia benar. Bagaimana bisa dia sepengertian ini?

Light show di Marina Bay Sands dimulai. Kami terdiam. Memandangi cahaya-cahaya di depan kami. Tanpa kata-kata, kami sama-sama sedang larut dalam pikiran masing-masing.

Aku masih menikmati gedung di depanku meski cahaya itu warnanya sudah tak berganti-ganti lagi. Sampai kusadari ada sepasang mata yang menatapku, bibirnya menyunggingkan senyum. Kuberanikan diri menengok, meski takut terjatuh di dalam kedalaman mata itu.

"Kenapa?," tanyaku dengan suara tercekat.

"Kayanya berat banget nih urusan patah hati," ujarnya sok tahu dengan senyum yang masih belum hilang.

Aku balas tersenyum tipis, menimbang-nimbang haruskah aku menceritakan rasa sakitku padanya. Toh, dia juga hanya orang asing yang bisa jadi tak kutemui lagi.

Tunggu, dia orang asing yang begitu cocok denganku. Bahkan lebih cocok dari laki-laki yang kugadang-gadang pernah kucintai setengah mati.

"Kalau jalannya rumit, berarti bukan jodoh kan?," tanyaku memulai.

"Mungkin memang jalannya harus rumit dulu, untuk sampai ke tujuan?," jawabnya.

Aku terdiam.

"Aku merasa sudah mengusahakan mati-matian, tapi nggak kunjung sampai tujuan. Dan aku merasa selama ini hanya aku yang berusaha."

"Jadi, kamu putar balik nggak melanjutkan perjalanan?"

"Aku nggak siap berjuang lebih jauh kalau ternyata ujungnya nggak bersama. Aku nggak siap terluka."

"Nggak ada yang siap terluka, tapi itu semua proses."

"Lagian cinta itu aneh ya? Kalau dipikir-pikir, kenapa juga aku bisa cinta sama dia padahal selama ini jalan pikiran kita berbeda. Apa yang aku suka dia nggak suka, apa yang aku mau dia nggak mau, begitu juga sebaliknya."

"Ada yang namanya toleransi di dalam cinta."

"Kalau nggak ada toleransi?"

"Berarti bukan dia orangnya."

"Tapi aku cinta dia."

"Aku tau kamu cinta dia. Karena cuma orang yang kita cinta yang bikin kita nangis, bahkan sampai melakukan perjalanan sejauh ini. It's okey, wanita yang kuat berasal dari hati yang dipatahkan bukan?" katanya sambil menepuk lembut pundakku.

Malam itu, di Marina Bay Sands aku menyadari menemukan sosok baru: Orang yang sejalan denganku, orang yang menertawakan hal yang sama denganku, orang yang bisa mentoleransiku, orang yang bersamanya membuatku menjadi diri sendiri. Kenapa bisa aku mencintai orang yang tidak lebih cocok denganku dan punya banyak sekali perbedaan?

"I don't know your name but i know your voice sings to my heart. A sweet melody, a symphony of love," lantunku dalam hati, tiba-tiba teringat lirik lagu You Are the One milik Toni Gonzaga.

"By the way, namamu siapa?," tanyaku tiba-tiba sambil mengulurkan tangan.

Dia tersenyum, meraih tanganku seolah-olah sudah menantinya ribuan hari.

"Aldie."

Aku tersenyum mendengar namanya, berjanji akan mengingatnya. Ternyata aku tak ingin berpisah di perjalanan ini.

"Tiara. Sampai ketemu di Indonesia."

Malam itu, mungkin hatiku belum terbuka. Tapi kehadirannya membuatku menyadari sesuatu: Di dunia ini, ada orang yang cocok dengan kita tanpa perlu susah payah kita mengupayakannya.

- BERSAMBUNG -

You Might Also Like

0 komentar

Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk! Btw kalau mau komen bisa lewat PC ya :)

Subscribe