Skip to main content

Highlight

Lebih Sakit Meninggalkan atau Ditinggalkan?

Berawal dari Twitter, Berujung Jadi Social Media Officer di Digital Agency

Sumber Visual: leonardbright.blosgpot.com

Pada suatu malam yang damai, saya iseng buka-buka following twitter @ellgaeul yang 30% berisi teman-teman, 10% artis, 10% portal berita, dan sisanya akun selebtweet. Jadi, malam itu saya lagi menikmati layanan wifi.id di kos-kosan lama sebelum pindah ke kos baru. Pokoknya puas-puasin dulu pakai wifi gratis, karena sinyal wifi.id nggak sampai di kos baru saya. HIKS.


Baca kisah pindah kos saya di sini.

Di tengah perkembangan media sosial yang begitu pesatnya, tentu ada beberapa media sosial yang harus tersingkir, seperti Twitter. Sejujurnya media sosial bernama Twitter tidak pernah tersingkir, hanya saja di kalangan pertemanan saya udah nggak ada yang main Twitter. Ya bahkan kadang-kadang saya suka ngomong sendiri "ngapain deh main Twitter sendirian”. Nge-tweet sendiri, baca sendiri. Ya nggak sendiri banget sih, karena ketika melihat statistik tweet sebenarnya penayangannya masih puluhan kok (oh thanks twitter karena terus upgrade fiturnya). Jadi, tentu aja masih ada yang buka Twitter sekilas dan jadi silent reader. Maka dari itu, diri ini yang begitu iseng akhirnya buka ratusan akun temen-temen di following buat ngecek kapan terakhir kali mereka nge-tweet. Dan nyesel dong begitu tahu kapan persisnya mereka berhenti nge-tweet lalu pergi membiarkan Twitter begitu saja. Sebagian besar meninggalkan akunnya pada tahun 2014 meski masih ada beberapa yang muncul sekilas-sekilas pada tahun 2015. Lebih kesel lagi waktu ada yang terakhir nge-tweet tahun 2010. YA ITU APA BANGET COBA.


Tentu saja, alasan Twitter mulai ditinggalkan karena Twitter adalah media sosial buat orang-orang yang suka nulis. Fitur utamanya kan nge-tweet, nulis. Tempat di mana orang bisa bebas membagikan idenya, atau bagi remaja alay kaya saya ya curhat-curhat nyampah lah. Kebetulan saya emang suka nulis (dan curhat), jadi saya nggak bisa ninggalin Twitter. Bagaimanapun, Twitter mengajarkan menulis konten hanya dengan 140 karakter. Saya nggak bisa cuma asal nulis, harus kreatif gimana caranya apa yang ingin saya sampaikan tertulis dengan 140 karakter.


Yap. Temen-temen saya yang waktu itu bikin Twitter cuma kebawa arus, bukan passion. Kita nggak bisa memungkiri kalau Twitter juga punya masa kejayaannya. #FollowFriday merupakan salah satu hashtag yang sempet booming banget entah pada tahun berapa. Bagi yang masih main Twitter, pasti tahu banget lah kalau sekarang ini orang-orang yang hidup di Twitter adalah orang yang serius-serius banget. Jangan pernah bikin tweet laper kalau nggak mau disentil “kalau laper ya makan, bukan nge-tweet!”. Nggak usah juga puitis-puitis kalau nggak mau dicap “alay!” “lebay!”. Jangan curhat-curhat terlebih curhat kengeluh-ngeluhan (APA INI) kalau nggak mau disinisin. Ebuset, kalau mau serius dateng aja ke rumah orang tua saya, mz...


#SalahFokus


Tetapi, ada juga kok yang meninggalkan Twitter dengan alasan “sudah terlalu tua untuk alay di media sosial". Kalau itu udah prinsip, saya nggak mau komentar. Pft.


Menurut pendapat saya pribadi, orang-orang yang udah nggak main Twitter ini sebenernya karena mereka nggak follow orang-orang yang tepat aja sih. Setiap orang punya ketertarikannya masing-masing pada suatu hal, dan Twitter menyediakan semua itu. Saya pribadi punya ketertarikan pada orang-orang yang senang membaca, menulis, atau apapun tentang dunia kreatif. Di Twitter, saya bisa menemukan ketertarikan saya pada banyak selebtweet. Dan dari selebtweet-selebtweet tersebut, saya bisa mengenal berbagai dunia kreatif termasuk digital agency.

HAH? DIGITAL AGENCY? APAAN TUH?

Selebtweet yang saya follow adalah penulis yang aktif di blog ataupun bikin novel. Orang-orang ini kemudian melebarkan sayapnya seperti membuat film-film pendek atau hal-hal berbau kreatif lainnya. Saya terkesan pada bagaimana mereka mengelola konten di Twitter dengan kreatif. Tweet mereka nggak sembarangan. Sekalipun curhat, tweet-nya menarik. Dari tweet-tweet mereka juga, saya tahu ada kantor-kantor yang berisi orang-orang kreatif seperti advertising agency, creative agency, dan digital agency.


YA TERUS? DIGITAL AGENCY ITU APAAN?

Tenang, tenang, jangan panik ya bagi yang belum tahu digital agency itu apa.

(Padahal sendirinya yang panik)

Belakangan saya lagi sibuk di dunia digital. Yes, lulusan Administrasi Negara ini lagi terjebak dan berkumpul dengan anak-anak komunikasi. Apakah saya salah jurusan? Wallahualam. Intinya, sekarang saya lagi menjalankan passion setelah berbulan-bulan bingung kerja apa ya enaknya.

((( KERJA APA YA ENAKNYA )))

((( APA KAMU NGGAK BUTUH DUIT )))

((( KAN NGESELIN )))

Pemikiran orang tentu beda-beda. Bagi saya, kerja itu harus sesuai passion. Bukan asal kerja dan dapat uang. Saya ingin kerja di tempat yang memang diinginkan. Tentu saja ini susah, terlebih ketika orangtua ingin lebih mudah menjelaskan kepada orang-orang di luar sana di mana anaknya bekerja. Sama halnya dengan orangtua saya yang pengen anaknya kerja “di tempat yang pasti-pasti aja”. Tapi setelah sekian lama, akhirnya orangtua memberikan ridho juga pada anak perempuannya walau sebenernya mereka masih bingung anaknya kerja apa.


“Jadi, sebenarnya kerjaan kamu apa?”


Orangtua bingung, saya juga bingung. Dan kebingungan ini akan menyebar ke mana-mana. ketemu orang di jalan, ditanya kerjaannya apa. Saya jawab, mereka yang nggak jawab. Soalnya bingung. HAHAHAHAHA. Tapi lebih ngeselin kan kalau temen sendiri yang nanya.


“Kamu kerja di mana?”

“ Digital agency.”

“Itu apaan? Agensi TKW?”

“......”




“Kamu kerja di mana?”

“ Digital agency.”

“Itu apaan? Agensi artis? Ngurusin artis-artis?”

“......”



“Kamu kerja di mana?”

“ Digital agency.”

“Itu apaan? Percetakan gitu?”

“......”




“Kamu kerja di mana?”

“ Digital agency.”

“Itu apaan? Penerbitan?”

“......”



Kamu kerja di mana?”

“ Digital agency.”

“Itu apaan? Semacam kedai digital gitu?”

“......”


SAYAT SAJA SAYA, SAYAAAAT.


Dan kebingungan ini nggak berhenti sampai di situ aja.


“Jadi, itu kerjanya ngapain?”

“Jadi gini..... gitu.”


Mereka bingung, dan saya bosan. Sehingga pada lain kesempatan ketika pertanyaan itu kembali muncul,

“Jadi, itu kerjanya ngapain?”

“Update Status.”

“Hah? Enak banget dong?"

“Iya.”


Iya....

Enak banget....


*minta disayat lagi*


Begitulah. Tulisan ini muncul karena keresahan saya akhir-akhir ini akan pertanyaan orang-orang yang sering bikin istighfar. Tentu saja informasi di tulisan ini alakadarnya aja secara garis besar, karena toh ilmu saya juga masih semata kaki.


Jadi, di dunia ini ada sebuah kantor periklanan yang tugasnya bikin iklan untuk suatu produk. Iklan-iklan di tv yang muncul ketika orang-orang lagi nonton Tukang Bubur Naik Haji itu nggak semua dibuat oleh perusahaan produknya sendiri, tetapi oleh orang-orang yang kerja di kantor advertising. Padahal bikin iklan itu pasti pusing, plus seru. Ini sok tahu sih, karena saya juga belum pernah kerja di advertising. Tapi ketika ngeliat iklan-iklan yang bikin ketawa, saya jadi sering mikir betapa kreatifnya orang-orang advertising. Proses membuat hal kreatif itu kan nggak mudah dan mereka bisa menciptakan iklan dengan konsep-konsep yang update.


Nah, berhubung perkembangan dunia digital pesat banget beberapa tahun ini, muncullah suatu perusahaan bernama digital agency. Di sini, digital agency bertugas mengiklankan suatu produk di dunia digital, bisa lewat Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan segala jenis media sosial lainnya tergantung kebutuhan suatu produk itu sendiri. Tapi mengiklankan di sini bukan berarti jadi promosi-promosi di Facebook dan nyuruh langsung orang-orang buat beli produk tersebut. Enggak. Sama halnya dengan bikin iklan di tv, digital agency harus mengenalkan sebuah produk lewat konsep-konsep konten yang kreatif. Sebenarnya sih bener kalau kerjaannya update status. Dream job banget nggak sih buat remaja alay kaya saya yang selalu ngikutin berbagai perkembangan media sosial dan nggak pernah ketinggalan bikin akunnya. Masalah pemanfaatannya, nah itu yang saya masih harus belajar. Dan di sinilah saya, seorang lulusan politik yang begitu buta media & advertising tapi sok-sokan masuk digital agency terus pas awal-awal (sampai sekarang sih) suka melongo-melongo nggak jelas.

Karena update status nggak semudah itu.

Orang-orang yang bekerja di digital agency ini memegang peran penting untuk membuat ‘wajah’ sebuah brand yang dipegangnya. Begitu datang, saya langsung memegang sebuah brand yang cukup besar. Dan saya nggak bisa seenak jidat update-update status buat brand tersebut. Saya harus mempelajari tujuan dari brand tersebut, target pemasarannya, bahasa komunikasinya, dan yang paling penting isi kontennya. Ide-ide saya harus terus mengalir untuk bikin konten yang menarik dan update tapi tetap ada di jalur brand. Saya inget banget tuh waktu Head of Social Media Strategic di tempat saya kerja bilang, "Nanti kamu bikin konten buat di facebook, twitter, sama website-nya, bikin artikel-artikel gitu. Kamu coba buka website-nya dan pelajari dulu ya".

WHAT. Saya lemah banget kalau suruh nulis artikel. Langsung kepikiran kalau kabur saat itu juga ketahuan nggak ya HAHAHA.


Nggak kok, nggak. Awalnya memang sempat bingung, tetapi saya menganggap nulis artikel adalah suatu tantangan untuk memiliki kemampuan menulis yang lebih besar lagi.


CIYE GITU.


Intinya, digital agency adalah sebuah perusahaan di mana orang-orang yang hidup didalamnya harus melek digital. Orang-orang di sana harus terus update media sosial terbaru atau fitur terkini dari sebuah media sosial. Buat narsis? Enggak. Tapi buat bikin konten terbaru. Orang-orang digital agency harus siap mencari tahu serta menghadapi hal-hal yang lagi booming untuk kemudian strategi dan kontennya disesuaikan sama brand yang dipegang. Waktu ada fitur baru dari sebuah media sosial dan orang-orang di luar sana langsung memakai untuk bernarsis ria, orang digital agency harus mikir gimana bikin konten dengan memanfaatkan fitur tersebut. Iya, seseru itu.


Ketika sekarang mendapat kesempatan untuk belajar di sebuah digital agency, saya sangat sangat bersyukur. Bagi saya, sekarang ini saya nggak lagi bekerja melainkan belajar. Selalu ada hal baru yang bisa saya pelajari. Biasanya, saya menggunakan semua media sosial dengan mengisi kontennya secara acak, sekarang saya jadi lebih belajar fungsi dari setiap media sosial. Saya yang emang hobi nulis, ternyata masih sering kena revisi di beberapa penulisan dan tanda baca yang membuat saya jadi tahu kesalahan-kesalahan kecl untuk kemudian dipelajari. Saya yang sering dipuji-puji teman karena kreatif mendadak merasa seperti retakan tembok di dinding kantor karena merasa ilmu ini masih seukuran upil. Saya yang semula tidak peduli pada hal-hal detail, kini harus mulai belajar mengamati banyak hal untuk membuat konten tulisan.


Yes, saya akan menikmati masa-masa ini, masa di mana saya bekerja dengan tujuan untuk belajar, sebelum memiliki tujuan yang lebih penting seperti nabung untuk kehidupan rumah tangga nantinya. BUAHAAHAHAHAHAHA.


Ternyata memang benar, pekerjaan yang paling menyenangkan di dunia ini adalah hobi yang dibayar.

Comments

  1. maap numpang ngakak di bagian ini, " Saya yang emang hobi nulis, ternyata masih sering kena revisi di beberapa penulisan dan tanda baca yang membuat saya jadi tahu kesalahan-kesalahan kecil untuk kemudian dipelajari." hahaha maapkan aku ya Elgaaaa

    ReplyDelete

Post a Comment

Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk! Btw kalau mau komen bisa lewat PC ya :)