Lebih Sakit Meninggalkan atau Ditinggalkan?

7:29 AM


"Di tempat yang paling seru sekalipun, kita pasti punya batas kelelahan di situ. We need an escape plan, penting punya pilihan untuk pergi, kapanpun kita mau."

Lagi-lagi kalimat yang pernah saya baca dalam novel Critical Eleven muncul di pikiran. Ini kali kedua kalimat itu memengaruhi kehidupan saya. Yang pertama dulu banget saat sedang mempertimbangkan untuk resign sebagai anak ahensi. Pekerjaan saya sebagai social media officer saat itu sangat seru, cuma memang ada beberapa hal yang nggak cocok hingga membuat saya mencapai batas kelelahan. Beruntung di bulan terakhir bekerja di digital agency, saya lagi dalam proses rekrutmen kantor baru. Jadi nggak sampai satu bulan Alhamdulillah saya udah dapet kerjaan lagi.

Sejak akhir Januari 2017 lalu, saya bekerja sebagai jurnalis/content writer di sebuah media online Indonesia.

Apa sih hal paling membahagiakan di dunia ini selain mengerjakan hobi sendiri dan dibayar? 

Baca cerita saya waktu pertama kali jadi anak ahensi di sini.

Mungkin waktu jadi anak ahensi saya cuma nemuin bahagia di bidangnya aja. Tapi ketika akhirnya pindah kerja, saya nemuin kebahagiaan nggak hanya di bidangnya yang kebetulan jobdesk saya nulis dan nyosmed. Kebahagiaan juga saya dapatkan dari kota baru tempat saya tinggal, lingkungan baru yang sangat nyaman, dan teman-teman serta senior yang baik.

Solo, dari lantai 3 kantor.

Buat saya, lingkungan kantor di mana saya bekerja sebagai jurnalis/content writer sangat terbaik dan udah di level bikin betah. Saya bisa habisin waktu berjam-jam di sana setelah  kerjaan selesai. Setiap hari layaknya orang kerja kantoran pada umumnya tentu tekanan semakin berat tapi karena lingkungan yang menyenangkan saya bisa tetap enjoy menjalaninya.  Di mana lagi coba saya akan menemukan tempat senyaman itu?

Di mana?!?!?!?!?!!?

(Padahal pengalaman kerja baru di dua perusahaan)

Sempat sih beberapa kali ada keinginan untuk pindah, tapi hati kecil selalu ngomong, "Belum, belum saatnya. Lo udah belajar apaan di sini sih? Udah banyak ilmunya?."

Gitu terus sampai sebuah kesempatan datang.

Bulan Maret 2018 ada sebuah kesempatan yang penuh tantangan baru. Sebuah kesempatan dalam sebuah bidang yang sebenarnya nggak asing, tapi nggak tahu kenapa kerasa benar-benar berbeda dan menawarkan pengalaman baru untuk saya.

Ketika dapat kesempatan itu, saya masih yang mengiyakan tapi sama sekali nggak ada bayangan kalau benar-benar akan pindah.

"Eh ada lowongan nih, lo mau nggak kalau jadi sosmed?"


"Maaaaauuuu baaaangeeeet!"


Sudah. Kirain akan begitu saja. Terus saya lanjut bekerja, melakukan rutinititas yang itu-itu lagi.

Sampai akhirnya orang yang membuka kesempatan menjelaskan jobdesk saya di bidang itu secara lebih rinci dan prospek ke depannya.

Setelah mendengar itu semua, saya sangat tertarik. Tapi kemudian saya maju mundur bingung tapi nggak cantik kaya Syahrini (Astaghfirullah saya jayus). Semua itu dikarenakan rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba muncul.

Saya mampu, nggak sih?


Nggak bisa dimungkiri akan ada masa di mana setiap orang merasa titik percaya dirinya turun ke level paling bawah. Karena setahun belakangan ini fokus saya kan memang nulis. Sempat sih pegang sosmed tapi tetap aja yang utama nulis. Kalau saya pindah sebagai jurnalis/content writer lagi saya nggak masalah dan akan sangat percaya diri. Mengamati berita mana yang akan viral khususnya seleb terus menulisnya udah jadi makanan sehari-sehari selama setahun.

Jadilah ketika kesempatan itu benar-benar datang,  nyali saya malah ciut. Soalnya ini berbeda dari semua yang pernah saya jalani. Dan kesempatan itu yang akhirnya membuat kalimat paling membekas dari novel Critical Eleven kembali muncul di kepala.

"Di tempat yang paling seru sekalipun, kita pasti punya batas kelelahan di situ. We need an escape plan, penting punya pilihan untuk pergi, kapanpun kita mau."

April 2018 jadi bulan yang benar-benar berat buat saya. Berbagai pertimbangan berperang hebat di otak selama hampir sebulan.

Saya terus menimbang-nimbang batas-batas kelelahan dan mencari-cari kemungkinan yang membuat saya bertahan. Bahkan, saya sampai beli novel 'Resign' dan nonton drama Korea 'The Best Momen to Quit Your Job' cuma buat nyari insight soal batasan-batasan itu.

Sebenernya sih 80% pertimbangan adalah pindah, karena saya pengen banget menambah ilmu dan meningkatkan kemampuan. Tapi 20%-nya ini berisi ketakutan-ketakutan yang akhirnya bikin otak saya mikir keras. Sementara pertimbangan teman-teman yang mendukung kepindahan saya malah bikin otak kok jadi makin pusing.


"Aku tuh lihat kamu lebih seneng ke bidang itu dan kamu juga pasti bisa."

"Kamu tuh harus berkembang, kamu nggak bisa gini-gini aja."

"Pindahlah, di sana kamu bisa belajar lagi sesuatu yang baru."


BUUUKK, MUMET AKU BUUUUUUKKK!

Masalahnya, kantor saya sekarang dan apa yang saya kerjakan ini kan zona nyaman dan aman banget. Senyaman itu sampai saya terlalu mager untuk menciptakan zona nyaman di tempat lain. Percaya deh, kantor senyaman dan semenyenangkan di situ beneran candu. Setiap pikiran udah memutuskan untuk pindah, selalu aja saya berhasil dibikin nyaman. Terus galau lagi. Besoknya mantap pindah lagi. Eh dibikin nyaman lagi.

AH BODO AMAT UDAH SAYA DI SINI AJA DUDUK NYAMAN.

Gitu. Saya sampai mikir sangat receh di puncak frustasi gara-gara terlanjur mumet. Banyak ketakutan-ketakutannya. Namanya juga manusia bukan robot Doraemon.

Ya Allah saya jayus lagi :(

Langit jelang resign, tidak pernah ada senja.

Tapi beberapa waktu kemudian... 

"Mas, saya mau mengundurkan diri..."

Nada saya udah bergetar, pengen nangis. Hati saya sakit.

Saat saya memutuskan mengambil pilihan itu, pikiran soal zona nyaman dan segala ketakutan udah selesai. Mendadak saya jadi orang paling positif thinking nomor satu di dunia. Apapun yang terjadi nanti, yang harus saya lakukan ke depan adalah melakukan yang terbaik dan lebih baik lagi. Saya nggak mau bisa satu bidang aja. Saya harus nambah ilmu lagi.

Meskipun sedih ketika akhirnya harus meninggalkan zona nyaman dan aman, saya menyadari ada perasaan excited karena akan menghadapi suasana baru, akan mengenal orang-orang baru lagi, akan punya tantangan hidup baru lagi, akan bertanya-tanya lagi besok mau  ngapain, akan penasaran besok melakukan hal baru apa.

Yang belum selesai cuma kesedihan karena harus meninggalkan teman-teman dan semua kehangatan di sana.

Setiap kali berpikir kalau waktu saya udah habis di sana, saya sedih banget.

Baca tentang perpisahan dan ketakutan-ketakutan akan kehilangan di sini.

Selama ini saya cuma tahu rasanya ditinggalkan mereka yang resign duluan. Saya nggak tahu rasa sedihnya saat meninggalkan. Apalagi ketika saya ngeliat beberapa temen menangis waktu saya mengambil keputusan untuk resign. Saya ngerasa sedih banget karena udah buat orang lain sedih.

Di titik itu, saya ngerasa kalau yang meninggalkan jauh lebih sakit daripada yang ditinggalkan. Karena saya udah sedih saat meninggalkan, masih ditambah sedih lagi ngeliat orang sedih atas kepergian saya.

Tapi pikiran itu dibantah ketika rekan kerja saya, Mbak Woro, bilang, "Tapi yang ditinggalkan kan teman-temannya itu-itu aja. Kalau kamu kan akan punya teman baru lagi."

Saat itu kita lagi di warung bebek, makan lele, lagi sedih-sedihmya sehari setelah saya mengumumkan resign. Penting dibahas karena makanan di warung itu enak.

Mendengar perkataan Mbak Woro sebagai pihak yang ditinggalkan, saya nggak jadi ngecap diri saya yang paling sedih. Tapi kan kita nggak pernah tahu ke depannya, bisa saja teman-teman baru saya nggak semenyenangkan di tempat lama? Atau bisa jadi teman-teman baru Mbak Woro nanti akan sama menyenangkannnya? Ya, kan? Sekali lagi, kita nggak tahu apa yang terjadi ke depannya. Tugas kita hanya harus menjalaninya. Memang siapa yang nyangka pada akhirnya saya akan resign?

BUSET BEBERAPA PARAGRAF DI ATAS BANYAK BANGET KATA KUNCI SEDIH, YA.

Suatu sore, pemandangan dari tempat favorit di kantor bersama teman-teman favorit.

Begitulah hingga akhirnya saya resmi resign per akhir April 2018 ini, dengan perasaan sedih dan excited mengiringi.

Sesedih itu sampai pas nulis postingan inipun air mata saya masih netes aja.

Sialan memang. Nggak nyangka bekerja di kantor kedua jadi satu bagian terbaik dalam hidup saya.

Dan sebelnya, saya cengeng banget gara-gara ini.  Kalau kata kutipan dalam Critical Eleven, we react to every single thing in our life because of our memory. Ya saya nggak mungkin bereaksi seperti ini gara-gara perpisahan kalau bukan karena kenangan indah bareng semua orang di kantor itu. 

Pas lagi ngobrolin resign ke atasan-atasan aja air mata saya sempat keluar gara-gara atasan saya ngomong satu kalimat, yang mungkin saja template dari satu karyawan ke karyawan lain yang resign. Tapi ya gimana, memang ketika satu kalimat itu terdengar kok rasanya sedih banget.

"Tolong ingat yang baik-baik dari kantor ini ya...."

Ya saya menangis.

Suatu pagi di kantor, satu minggu jelang resign.

Tentu saja saya akan mengingat semua yang baik, karena ketika diingat lagi, ternyata semuanya menyenangkan. Semuanya jadi memori manis dalam perjalanan hidup saya, yang bikin saya senyum ketika mengenangnya, yang bikin saya merasa sangat bersyukur karena nggak semua orang mendapatkan memori sebaik ini. Terima kasih atas kenangan yang sangat sangat sangat indah selama satu tahun empat bulan....

You Might Also Like

0 komentar

Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk!

Subscribe