S-K-R-I-P-S-I

10:49 PM

Sembilan bulan tiga belas hari, akhirnya saya melahirkan sebuah karya: skripsi.

Mengingat skripsi, adalah mengingat segala jatuh bangun perjuangan agar bisa menyelesaikan studi. Sejak pembagian dosen pembimbing pada bulan Juni 2014, hidup saya tidak pernah sama lagi. Sempat terlupakan sekitar tiga bulan karena harus menjalani KKN, pada pertengahan bulan Oktober saya kembali pada tanggung jawab.

Baiklah, mari kita mengingat kembali angan-angan saya: November seminar proposal dan wisuda pada bulan Maret. Cita-cita klasik mahasiswa tingkat akhir yaitu wisuda secepat-cepatnya. Tapi apa yang kita inginkan bisa saja tidak tercapai saat mengerjakan skripsi. Kita bisa membuat target serinci mungkin, tapi faktor-faktor pendukung skripsilah yang menentukan.

Bulan Oktober 2014 saya mengajukan proposal tugas akhir skripsi. Masih teringat saya datang menemui Bapak Dosen Pembimbing di ruang kuliah memakai baju corak merah, kerudung merah dan rok berbahan jeans. Judul saya ditolak dan diganti oleh Bapak Dosen Pembimbing. Saya masih tersenyum dan baik-baik saja, sampai akhirnya sadar bahwa saya bingung dengan judul tersebut.

Bulan Desember 2014 saya pulang ke rumah dan menangis di hadapan bapak ibu setelah sejak Oktober dan November berjuang bimbingan dan merasakan apa yang dimaksud kakak angkatan yang mengucapkan "semangat ya!". Saya menangis sejadi-jadinya, baru awal tapi saya sudah menyerah. Tapi kemudian saya bangkit lagi. Akhir Desember saya mengurus surat izin penelitian terlebih dahulu untuk melakukan observasi awal. Iya, sebelum seminar proposal, saya sudah punya data.

Bulan Januari 2015, perjuangan makin menggila. Fase dimana bimbingan satu kali buntunya satu bulan terjadi. Setelah dua kali direvisi bagian identifikasi masalah, saya frustasi. Liburan semester saya masih di Jogja, sendirian di kos-kosan, dan mulai menikmati kesendirian akibat skripsi. Saya tidak pulang ke rumah juga tidak ke mana-mana di Jogja. Hanya bengong di kamar berhari-hari dan nyaris gila. Pernah suatu hari, karena sudah bingung harus melakukan apa lagi pada identifikasi masalah, saya menangis meringkuk di sudut kamar sendirian. Menangis sejadi-jadinya karena bingung dan sorenya naik ke Paralayang Parangtritis untuk menenangkan diri. Waktu itu, saya bersedih berhari-hari.

Bulan Februari 2015 saya bimbingan dan masih juga revisi. Saya semakin gila dan memutuskan pulang ke rumah. Saya menghabiskan bulan Februari di rumah, hanya makan, tidur, makan, tidur hingga saya menemukan kekuatan kembali. Saya kembali ke Jogja.

Bulan Maret 2015 semangat saya menggebu. Menghabiskan hari di rumah ternyata obat yang sangat ampuh. Saya semangat sekali dan tidak takut gagal. Saya menemukan prinsip untuk coba lagi dan coba lagi jika gagal. Saya akan menghabiskan jatah gagal saya. Saya ingat suatu sore di Masjid Prayan saya salat, mengaji dan berdoa sambil menangis. Hingga kemudian, 18 Maret proposal saya di-acc. Saya bahagia bukan main, tergopoh-gopoh mendatangi Ibu Ketua Jurusan untuk meminta narasumber yang nantinya akan menjadi penguji utama. Sayangnya, kebahagiaan itu hanya sesaat. Saya belum bisa seminar proposal jika belum mencari teman yang akan seminar juga. Beruntung, satu minggu kemudian saya meminta untuk seminar sendiri dan diperbolehkan oleh Ibu Kajur. Jadilah 31 Maret saya seminar sendiri. Tidak hanya itu, kemalangan masih saja menghampiri. Hari di mana saya seminar proposal, daerah kampus kena pemadaman bergilir. Saya lari sana-sini mencari ruang kelas yang tidak terpakai saat hari kedua datang bulan. Setelah hampir satu jam mencari kelas dan lari sana-sini, saya terduduk lesu di tangga dengan bersimbah keringat, akhirnya Ibu Kajur yang sekaligus menjadi narasumber saya mengusulkan ruang kelas. Akhirnya....


Seusai seminar proposal, bersama teman-teman satu bimbingan.
Bulan April, Mei, Juni 2015 saya sibuk penelitian, mengerjakan laporan sedikit demi sedikit dan banyak piknik. Skripsi saya buntu. Mau bertanya pada siapa saya tidak tahu. Dosen pembimbing tidak bisa diandalkan. Dengan tekad dan nekad, pertengahan Juni saya sudah bimbingan. Hanya tiga kali dan tanggal 29 Juni saya ACC untuk ujian skripsi.

Tidak sampai di situ...

Masuk bulan Juli 2015. Bulan puasa dan liburan semester tiba lagi. Perlu waktu satu minggu bagi saya untuk mengurus syarat ujian skripsi dan begitu tanggal ujian ditetapkan yaitu tanggal 9 Juli 2015, H-2 sebelum ujian saat sedang print laporan skripsi, saya mendapat kabar kalau ujian saya diundur karena Bapak Dosen Pembimbing yang terhormat ada undangan rapat. Setelah nego hari Jumat dan beliau tidak mau, lalu senin jadwalnya padat, maka tanggal ujian saya ditetapkan hari Selasa tanggal 14 Juli 2015. Saya ingat slmenangis di depan taman Pancasila kampus menelepon bapak. 14 Juli itu H-3 Lebaran.

Hari ujian skripsi.

Saya sudah siap lahir batin. Sama sekali tidak ada rasa deg-degan seperti hari-hari sebelumnya. Daripada deg-degan, saya lebih banyak senangnya. Tidak perlu diceritakan bagaimana. Revisi saya banyak, tentu saja. Malamnya saya menangis karena bingung lagi. Karena ada libur lebaran. Karena waktu saya untuk mendaftar yudisium hanya empat hari dengan revisi yang menggunung dan dosen pembimbing yang tidak mendukung sedangkan wisuda di depan mata. Saya pulang lagi. Setelah tenang, saya memutuskan mengikhlaskan wisuda yang di depan mata. Banyak yang menyayangkan. Saya pun begitu jujur saja. Tapi saya mendadak religius dan sadar bahwa mungkin yang terbaik bagi saya adalah wisuda segera, tapi bagi Allah mungkin saja belum tentu. Saya baik-baik saja walau sudah berjuang banyak melalui bulan puasa tidak di rumah tahun ini dan ternyata gagal wisuda bulan Agustus.


Seusai ujian skripsi, baru sadar hanya ada foto dengan kostum seperti ini, ulah dua sahabat saya.



"Sebab apa-apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Tuhan." - Azhar Nurun Ala.

27 Juli 2015 saya kembali lagi ke Jogja, mengurus revisi pelan-pelan dan dengan kesabaran berlimpah. Saya mengurus revisi sekitar tiga minggu. Dua minggu berikutnya saya sibuk mengurus yudisium dan harus bangun pagi tanpa sarapan, menunggu dosen, naik turun ke ruang jurusan hingga kena herpes di bagian mata. Namun akhirnya segala kelelahan itu terbayar.

26 Agustus saya berhasil mendaftar yudisium bulan Agustus.

31 Agustus, tepat satu hari setelah hari ulang tahun ke 22, saya yudisium.


Yudisium periode Agustus 2015.


Saya lulus.
Saya sudah selesai.

Saya belajar banyak dari memperjuangkan skripsi.
Adakalanya saya diam di kos berhari-hari tanpa keluar kecuali untuk membeli makan. Adakalanya saya menggila dan pergi piknik terus-terusan. Saya yang tadinya tidak pernah pergi sendiri jadi ke mana-mana sendiri hanya untuk merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri. Mulai dari pergi ke mal, toko buku, perpustakaan kota, beli es krim McD, beli lumpia di Malioboro atau makan sendirian di KFC Kampus UGM sambil mengamati lalu lintas yang padat di lampu merah. Kadang-kadang saya sengaja salat dari masjid satu ke masjid lain. Saya yang tadinya kemana-mana minta ditemani jadi lebih senang lalu-lalang sendiri hanya untuk membahagiakan diri.

Dari skripsi saya belajar berjuang, berpikir, berdoa.

Untuk tetap berjuang, untuk tidak takut gagal, untuk tidak takut revisi, untuk terus mencoba menghabiskan jatah gagal.

Untuk sabar dan tak tergesa-gesa.

Untuk ikhlas ketika teman-teman sudah lebih dulu seminar proposal, ujian skripsi, bahkan wisuda.

Sungguh banyak hal yang bisa dipetik dari mengerjakan skripsi, jika mahasiswa lebih peka dan tidak melulu berpikir tentang lulusnya. Sejatinya, lulus adalah perihal kemauan. Jika tidak mau jatuh, berjuang, menangis, ikhlas, dan sabar, skripsi tidak akan pernah selesai.


Bahagia yang terlalu banyak. Rasa lega menjalar cepat. Selesai sudah kewajiban pada diri saya sendiri terutama pada Orangtua. Ini untuk Bapak & Mamah. Elga Maulina Putri, S.Sos.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Sangat memberikan pencerahan, mbak. Terimakasih sudah menulis ini.

    BalasHapus
  2. 13 bulan waktu yg aku gunakan 😭

    BalasHapus

Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk!

Subscribe