Menaklukan Tanjakan

1:04 AM

“Udah tau medan jalannya kan?”
“Nggak, gimana emang?”
“Tanjakan loh.”


Benar saja, medan jalan yang ditempuh piknik kelas kali ini tidak main-main. Tanjakan tinggi yang berkelok serta jalan yang tak begitu lebar menjadi tantangan. Piknik yang dijadwalkan berangkat jam enam pagi ternyata mundur sampai dua jam. Padahal, yang berangkat adalah calon aparatur negara. Semoga saat kami sudah lebih dewasa, waktu lebih tertepati.



Saat perjalanan baru akan dimulai, kami sudah disuguhi pemandangan yang indah: hamparan sawah serta pepohonan yang hijau berpadu dengan langit yang begitu biru. Kemudian ketika tanjakan mulai ditemui, pemandangan semakin tak terelakkan indahnya. Medan penuh tantangan terasa sepadan dengan panorama yang kami dapat. Perjalanan cukup lama, karena beberapa motor ada yang tidak kuat saat menanjak. Alhasil, kami harus saling menunggu atau berbalik arah untuk menemukan teman-teman yang tertinggal. Tempat wisata yang kami rencanakan adalah air terjun Grojogan Sewu Kulon Progo. Air terjun ini letaknya masih tersembunyi dan belum banyak dikenal wisatawan. Pantas saja, air terjunnya berada di perkampungan dengan jalan bebatuan yang cukup menyulitkan. Untuk parkir saja motor diletakkan di halaman rumah salah satu warga dan tidak ada biaya parkir ataupun biaya masuk. Pengunjung hanya diwajibkan mengisi buku tamu yang berisikan nama, alamat dan kritik/saran. Begitu turun dari motor, kami masih harus berjalan untuk ke air terjun dengan rute yang cukup jauh dan melelahkan. Begitu sampai, segera saya dan teman-teman berlarian, berfoto, berenang, ataupun duduk-duduk. Karena bukan hari libur, hanya ada kami di air terjun Grojogan Sewu. Yang laki-laki sudah mulai menceburkan diri dan para perempuan sibuk berfoto. Tidak ada tempat ganti menjadi salah satu alasan para perempuan tidak turut turun ke air. Namun akhirnya, tiga dari kami tergoda untuk bermain air dan berlindung di balik batu besar untuk ganti pakaian.

Rahmi, Siska, Dira, Nur, Elga. 


Guntur, Galuh, Hary, Aan, Made, Arya, Momon, Jisung, Akhsin.



Kami kembali ke kota pukul 12.00 untuk mencari makan siang lalu menuju pom bensin untuk sholat dan beristirahat. Karena dirasa masih terlalu dini untuk pulang, kami memutuskan menuju Puncak suroloyo. Perjalanan menuju Puncak Suroloyo lebih tidak main-main. Jalan tanjakan berliku yang konstan dan tak begitu lebar kembali menjadi tantangan. Lagi-lagi, pemandangan yang didapat sesuai dengan perjuangan kami. Karena jalanan yang lebih sulit, beberapa motor kembali tidak kuat menanjak. Salah satu teman yang menjadi pencetus ide piknik tak henti-henti memberi semangat pada kami untuk memacu kendaraan. Ketika sampai di retribusi, hujan mengguyur. Entah berapa puluh tangga tinggi-tinggi maupun hujan yang menyerang, tidak menghentikan langkah kami untuk sampai di puncak. Meskipun, ketika sampai nafas kami sudah terengah-engah dan kabut menutupi sebagian besar pemandangan. Menjelang  petang kami bergegas pulang, namun kembali ada halangan. Ban bocor terjadi pada dua motor sehingga kami harus menunggu selama satu jam untuk pulang. Piknik kali ini menyenangkan yang justru terasa seru saat menempuh perjalanan. 

Saat perjalanan menuju Pucak Suroloyo, mampir ke Embung baru dan lupa nama embungnya.

Salah satu sisi pemandangan di Embung.

Puncak Suroloyo, sisi yang cerah.

Pemandangan paling keren di Puncak Suroloyo


Sisi Puncak Suroloyo yang berkabut.

Tangga yang harus dilalui untuk menuju ke Puncak Suroloyo.


12 Maret 2014
Air terjun Grojogan Sewu Kulon Progo - Puncak Suroloyo

Happy!

You Might Also Like

0 komentar

Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk!

Subscribe