Skip to main content

Highlight

Lebih Sakit Meninggalkan atau Ditinggalkan?

Buku Harian

Terkadang ingatan sering berkhianat. Peristiwa-peristiwa yang silih berganti memaksa beberapa ingatan keluar untuk digantikan dengan ingatan baru. Tidak ada yang bertanggung jawab untuk memori yang terkikis waktu, namun setiap orang berhak untuk menyimpan memorinya. Mungkin lewat lensa, mungkin juga lewat pena.



Saya melihat meja rias terasing di kamar yang sudah ditinggalkan sejak awal kuliah dua tahun lalu. Di dalam lacinya terdapat tumpukan buku yang berdebu serta kertas-kertas yang berserakan. Tidak ada siapa-siapa dirumah dan  perlahan saya keluarkan seluruh isi laci sambil menahan bersin karena debu. Ada buku tulis dan buku cetak saya saat berada di SMP. Tapi bukan itu yang membuat terpana. Ada kotak sepatu yang sudah beralih fungsi menjadi kotak rahasia. Saya membuka kotak itu lalu tersenyum-senyum. Kotak itu berisi buku harian.


Saya melihat buku harian berwarna hijau di tumpukan atas: itu buku harian pertama. Saya masih SD ketika memilikinya dan lupa darimana mendapatkannya. Buku harian itu berisi tentang persahabatan. Saya lantas tertawa melihat bagaimana cara saya menuliskan kehidupan dengan sudut pandang anak SD. Buku harian itu menceritakan masa SD: tentang sahabat-sahabat yang berkhianat namun tetap ada dan sahabat-sahabat baru yang terus datang, tentang teman-teman sekelas saat SD yang menyenangkan, bahkan tentang saya yang kerap dihukum oleh guru bahasa inggris. Saya menelisik jauh ke dalam ingatan. Tulisan-tulisan itu mengingatkan akan banyak hal. Saya tidak cukup polos saat itu, tetapi cukup kekanak-kanakan. Tipe anak SD yang terlalu sering menonton sinetron Bidadari lalu lantas menjadi sok dewasa.

Buku Harian saat SD

Lalu ada buku harian kecil yang begitu manis dan saya menyukainya. Buku harian itu hadiah ulang tahun dari teman dekat sekaligus tetangga rumah, berisi tentang masa-masa MOS saat di SMP. Di buku harian itu saya terlihat merindukan teman-teman SD dan tersirat kehidupan SMP sudah agak penuh dengan drama. Buku harian itu hanya terisi beberapa lembar. Sebagian besar kertasnya sudah tidak ada: saya lupa merobeknya secara sengaja atau tidak . Lalu di tumpukan selanjutnya ada buku harian berwarna kuning yang dibeli dengan uang lebaran. Buku harian saat berada di kelas 1 SMP itu mulai penuh dengan drama dan saya tahu hidup sudah mulai tidak menyenangkan. Buku itu banyak berisi hal-hal yang ketika dibaca memaksa saya mengingat lagi peristiwa-peristiwa yang tidak disukai. Banyak peristiwa yang cukup berurai air mata terjadi. Kabar baiknya, saya punya sahabat baik yang selalu saya tulis di sana, lengkap dengan konfliknya.

Buku Harian saat SMP, kelas 1.


Setelah puas mengenang masa-masa tak menyenangkan, saya tertarik dengan tumpukan kertas binder yang cukup tebal. Itu adalah kisah di kelas 2 SMP dan hidup terlalu menyenangkan. Menemukan sahabat-sahabat baru dan teman-teman kelas yang sederhana saja. Bercerita juga tentang prestasi-prestasi yang mulai saya raih. Lucunya, buku harian itu menunjukkan betapa rajinnya saya waktu itu. Menjadi juara kelas dan pernah menjadi juara lomba mendongeng. Hidup terfokus pada teman-teman, laki-laki, dan pelajaran. Semuanya seimbang.

Dibawah tumpukan kertas binder tidak kutemukan lagi diary. Yang ada hanyalah buku tulis yang tak terlalu tebal. Sejak kelas 3 SMP, saya menulis  di buku tulis biasa. Teman sekelas di kelas 3 SMP sama dengan teman sekelas di kelas 1 SMP. Lagi-lagi hidup penuh drama. Di kelas 2 SMP saya bertengkar dengan sahabat yang selalu saya tulis di kelas 1 SMP hanya karena salah paham remaja yang sedang PMS. Maka saat duduk di kelas 3, saya terasing. Kebetulan pendukungnya lebih banyak daripada yang ada di pihak  saya. Kelas 3 SMP tidak begitu menyenangkan di kelas, tetapi saya begitu terpacu. Permusuhan yang terjadi justru menimbulkan motivasi hingga membuat saya mampu masuk di SMA favorit di saat sebagian besar dari mereka tidak.

Buku Harian SMP, kelas 3.

 “Saya berterimakasih pada teman-teman kelas 1 dan 3 SMP. Berkat mereka, saya terpacu dan penuh emosional untuk menjadi lebih baik dari mereka.”

Saya tertawa membaca buku harian kelas 1 SMA. Lagi-lagi hidup tidak mudah, bahkan cukup sulit. Tetapi bertemu dengan lima orang sahabat yang kemudian penuh dengan konflik menjadi bumbu tersendiri. Dan sampai sekarang, kami tetap bersahabat baik. Berpisah dengan mereka cukup membuat ketar-ketir saat masuk di kelas 2 SMA. Buku harian yang lagi-lagi berupa buku tulis hanya berisi setengah buku. Di sana diceritakan bagaimana pertemuan pertama dengan teman-teman baru, proses pertemanan dan hidup mulai menyenangkan di sana. Selebihnya, saya tidak punya buku harian lagi. Mungkin saya benar-benar menikmati hidup, atau memang benar-benar sedang membuat dunia sendiri di tengah kejamnya kehidupan. Tetapi ketika mengingat-ingat masa-masa di mana tidak menulis buku harian, saya merasakan kebahagiaan. Bahagia bersama teman-teman kelas yang begitu membebaskan menjadi apapun. Dulu hidup penuh tawa. Saya pernah menangis karena cobaan Tuhan dan laki-laki, tetapi selebihnya tidak sempat menangis lagi. Waktu habis di sekolah bersama teman-teman yang menyenangkan, membuat ribut di kelas, menjahili teman-teman, mengerjakan tugas, belajar untuk ulangan dan remidi sampai tidak sempat mengingat rasa sakit apapun. Dulu saya bahagia.


Buku harian kelas 1 SMA.

Buku harian awal kelas 2 SMA.


Saya mengingat-ingat lagi kehidupan dua tahun belakangan ini tapi tidak ada yang bisa diingat dengan baik. Tahu-tahu saja saya sudah sampai di titik ini tanpa bisa mengingat apa-apa. Saya sedikit menyesali ingatan yang sengaja dihilang-hilangkan. Mungkin saya harus menulis buku harian lagi. Menuliskan hari-hari agar ada sedikit kenangan di hari tua.


“Menulis buku harian menjadi salah satu target untuk semester lima. Ada banyak peristiwa yang sayang untuk dilupakan begitu saja, dan tulisan akan menjadikannya terkenang.”

Comments