Makassar

9:45 PM


Yang namanya rezeki, bisa dalam bentuk apa saja. Uang, kesehatan, jodoh, dan lain-lain. Kali ini, rezeki yang di dapat berupa tiket ke Makassar. Aku masih ingat saat ibu mengabarkan kalau akan ke Makassar dan aku boleh ikut.


            “Ga, mama mau ke Makassar. Kamu mau ikut?” sore itu aku mendapat telfon dari mama.
            “Mau!! kapan?” Jawabku bersemangat.
            “Ya sekitar tanggal 20 Oktober, sekalian idul adha disana. Kamu bolos nggak apa-apa?”
            “Nggak apa-apa, aku ikut.”


Biasanya, jika ibu ke Makassar aku dan Bapak tidak pernah ikut. Walaupun lahir di Makassar, aku tidak pernah tinggal disana. Terakhir kali ke Makassar, saat akan pindah dari Jayapura ke Purwokerto. Itupun hanya sempat singgah satu bulan. Tapi aku sempat bersekolah di Makasssar selama dua minggu karena takut ketinggalan pelajaran. Waktu itu aku masih kelas 2 SD. Dulu,selama 1 bulan di Makassar, aku suka membeli bakso tusuk. Suka memanjat pohon jambu tetangga. Suka minta kecap sama nenek. Dan sering dikasih uang sama nenek.

Sekarang aku sudah besar, sudah 10 tahun tidak ke Makassar dan tidak ingat siapa-siapa disana. Aku berangkat tanggal 24 Oktober 2012 jam 6 pagi dari Jogja. Jam 4 pagi aku dan Ibu sudah check in dengan diantar Bapak. Ini bukan pengalaman pertama naik pesawat sebenarnya, tapi dulu aku naik pesawat saat masih kecil dan sudah lupa rasanya bagaimana. Aku sempat deg-degan saat harus naik pesawat, mungkin efek maraknya kecelakaan membuat sedikit parno. Tapi perjalanan selama 1 jam 45 menit tidak begitu terasa lama. Aku sampai Makassar pukul 08.45 WITA. Kesan pertama begitu sampai adalah: Makassar panas. Pantaslah kalau orang-orang Makassar gampang 'panas'. Kaya aku.

Aku sudah dijemput oleh tante, sepupu dan keponakan. Semua menyambut dan aku merasa sangat senang meski belum kenal dengan mereka karena lupa. Selama disana aku dan ibu tinggal dirumah kakak kedua ibu. Anak dari tanteku ini kalau tidak salah ada 7 dan semua sudah berkeluarga. Jadilah aku punya banyak keponakan disana sampai-sampai aku baru berhasil mengingat nama-nama mereka dalam beberapa hari. Selama aku di Makassar, sepupu-sepupuku ikut tinggal dirumah tante dan rumah jadi begitu penuh.

sama Putri

sama Fauzan

sama Icha. lucu banget Icha kayak pacarnya BoBoHo :)))


Fahri


Setelah beristirahat, aku menuju kerumah kakak pertama ibu untuk menemui saudara-saudara yang lain sembari menunggu Ibu yang membeli kambing untuk kurban. disana juga tidak kalah ramai. Satu hal yang aku jadi tau, orang Makassar setelah pulang sekolah atau kerja jarang langsung pulang kerumah. Biasanya mereka akan main di rumah saudara dulu. Beda dengan di Jawa, pulang sekolah atau kantor ya pulang, tidur.


Hari Kamis, seperti biasa aku bangun kesiangan. Sudah biasanya di Jawa bangun siang, di Makassar jadi semakin siang karena waktunya lebih  cepat satu jam. Ibu pergi ke pasar dan keponakan-keponakanku sekolah. Tugasku hanya menjaga keponakanku yang baru berusia satu tahun. Sekedar informasi, di Makassar jam masuk anak sekolah tidak selalu pagi. Malah kebanyakan siang. Dulu waktu aku SD di Makassar saja masuk jam dua siang.

Namanya Fathur





Sore hari, ibu mengajak jalan-jalan ke Pantai Losari. Sebelum ke Pantai Losari, kita mampir dulu di Masjid terapung. Dikatakan terapung karena masjid ini dibangun diatas air di Pantai Losari. Sayangnya Masjidnya belum sepenuhnya jadi, masih dalam tahap pembangunan.




banyak kan keponakanku? ini belum semua :)

Setelah itu, lalu menuju pantai losari.





Hari Jumat. Idul Adha. Setelah sholat Ied lalu kami sekeluarga pergi ziarah ke makam Kakek Nenek. Ada kejadian lucu, dimana kami para orang dewasa masih sibuk membersihkan makam, keponakanku yang masih kelas 4 SD justru berdoa terlebih dulu tanpa ada yang menyuruh.

“Ya Allah, ampunilah dosa nenekku. Terima dia disisimu. Masukkan dia kedalam surgamu.”

Subhanallah. Padahal dia mungkin masih sangat kecil waktu nenek meninggal, tapi dia mendoakan dengan begitu tulus.





Sepulang dari ziarah, aku berkunjung ke rumah sepupuku. Dulu saat aku masih kelas 3 SD dia pernah ikut ke Purwokerto untuk mencari kerja walau ujung-ujungnya dia memutuskan untuk pulang. Waktu itu dia masih bujangan. Dia yang membantu mengerjakan PR-PRku. Sekarang dia sudah punya 1 anak dan istrinya tengah mengandung lagi. Waktu memang benar-benar berjalan.

ini anak pertamanya.


Kami pulang saat hari sudah sore dan begitu sampai rumah aku bersiap-siap untuk tidur namun sepupuku membangunkan. Dia mengajakku jalan-jalan ke Malino. Malino ini adalah salah satu wisata alam seperti puncak Bogor. Jarak tempuhnya kira-kira 2 jam dan jalannya berkelak-kelok. Tempat yang kami kunjungi adalah air terjun ketemu jodoh. Unik. Kali-kali aja pulang bawa jodoh, kami kesana. 

adik-adik pada mabuk darat


pemandangan di Malino

Air terjun ketemu jodoh


sayang, air terjunnya lagi nggak deras.

pengen jadi anak kecil lagi. pengen ikut berenang :(



Setelah dari air terjun, kami masih harus naik lagi karena akan menjemput istri dari sepupuku yang sedang merayakan idul adha dirumah. Perjalanan panjang dan melelahkan, kami sampai di Makassar lagi jam 12 malam.




Hari Sabtu kami akan melakukan perjalanan panjang lagi. Kami pergi ke desa nenek di Segeri. Segeri adalah sebuah kecamatan di kabupaten kepulauan Pangkajene, dengan jarak tempuh sekitar 2 jam dari kota Makassar. Aku, Ibu dan kedua tanteku ditinggal ditempat saudara ibu sedangkan sepupu-sepupuku yang lain pergi pulang kampung ke rumah istri sepupuku. Segeri benar-benar daerah yang sangat mempertahankankan adat istiadatnya dan tidak terbawa arus modernisasi. Semua rumah di Segeri adalah rumah panggung. Disana hujan sepanjang sore, dan aku menikmati hujan dengan duduk diteras rumah. Beruntungnya, pemandangan didepan rumah adalah bukit. Begitu malam datang, sama sekali tidak ada penerangan dijalan. Bahkan, untuk kekamar mandipun harus membawa lampu teplok. Penerangan hanya didalam rumah, dengan suara anjing menggonggong disana sini. Di Segeri banyak sekali anjing, tapi jangan khawatir karena anjingnya justru takut dengan manusia baru. Dan ternyata, jika mau (maaf) buang hajat, orang disana melakukannya disungai atau pinggir jalan. Nanti, hajatnya dimakan anjing. Begitu katanya.

pemandangan depan rumah

Hari sudah semakin malam dan sepupuku tidak kunjung menjemput. Dia mengabarkan kalau lelah dan memutuskan menginap di rumah mertuanya. Disini aku agak kesal. Permasalahannya, kami semua tidak membawa baju ganti dan perlengkapan apapun untuk menginap. Belum lagi sinyal sangat susah didapat disana. Terpaksa menghabiskan malam dengan memandang kegelapan disepanjang jalan sambil mendengar gonggongan anjing bersahut-sahutan. 



Hari minggu paginya, aku dan ibu berjalan-jalan sambil mencari perlengkapan mandi. Kami tidak juga menemukan warung maka kami bertanya pada penduduk setempat. Ibu bertanya menggunakan bahasa daerah dan aku melongo saja karena tidak paham satu dua katapun.

“itu warungnya dua rumah dari sini. Bapak-bapaknya tadi bilang, untung mama pakai bahasa daerah, katanya kalau mama pakai bahasa Indonesia dia nggak ngerti.”


Miris. Dia tinggal di Indonesia dan dia tidak tau bahasa Indonesia? Pantas saja saudaraku itu kalau aku ajak bicara hanya senyum-senyum. Berhubung aku nggak bisa satu bahasa Makassarpun jadi aku pakai bahasa Indonesia. Curiga dia nggak paham aku ngomong apa. 

Segeri di pagi hari.

semuanya rumah panggung.

warungnya pun sederhana.

Sebenarnya aku tidak berniat untuk mandi. Karena aku pikir sepupuku akan menjemput pagi-pagi. Tapi ternyata sampai jam 9 dia berkata kalau baru akan jalan. Berarti. Butuh. Dua. Jam. Lagi. Untuk. Sampai. Segeri. Sabar.

kamar mandinya lucu kan? airnya seger banget loh :)


Dengan segala keributan yang ada akhirnya aku mandi. Kamar mandinya hanya tertutup seng yang sudah banyak bolongnya dan hanya menutupi sampai leher. Mandinya pakai sarung, bukan handuk. Aku ngotot tidak ingin lepas sarung saat mandi karena kamar mandi berada diluar rumah dan juga dirumah tempat aku tinggal ada anak  laki-laki yang hanya terpaut usia 5 tahun denganku. Aku mandi dengan perasaan khawatir tapi ternyata... airnya seger banget. Malah jadinya ketagihan mandi.

Jengkel. Kesel. Semua jadi satu waktu sepupuku baru sampai jam 12 siang dengan keadaan semuanya mabok darat sehingga jam 1 kami baru pulang ke Makassar. Waktu meninggalkan rumah di Segeri, ada perasaan lega, dan ada perasaan sedih. Sedih. Kapan lagi bisa kesana. Suasana di Segeri benar-benar nyaman.


perjalanan pulang dari Segeri


Sampai lagi di Makassar sekitar jam 3 siang. Sesudahnya aku langsung tidur dan menikmati kasur karena di Segeri kami tidur melantai. Malamnya dirumah ada yang mau menikah. Kebetulan, salah satu sepupuku perias pengantin dan rumah sering dijadikan tempat diadakan ijab Kabul.  Pengantin prianya lucu, wajahnya sangat gugup. Waktu ijab Kabul sampai diulang tiga kali. Baru pertama kali lihat ijab Kabul langsung dan kebetulan aku bertugas jadi fotografer.

foto dulu sama pengantinnya


Hari senin, aku disuruh berkemas karena aku akan pindah menginap dirumah kakak ibu yang pertama. Sepanjang hari aku bermain dengan keponakan-keponakanku karena hari itu terakhir bertemu. Malamnya aku sudah dirumah tanteku yang lain. Anaknya ada 5 dan semua juga sudah berkeluarga.


Ibra. Ibrakadabra :)


Hari selasa jadwalku padat. Aku pergi berbelanja ke Makassar Trade Center lalu menuju pasar sentral. Banyak barang dijual disana dengan harga murah. Dan juga, pakaian dan  celana- celana di Makassar modelnya bagus-bagus. Setelah itu menuju pinggir pantai untuk membeli oleh-oleh. Selama di Makassar, kami bepergian menggunakan pete-pete. Pete-pete adalah angkot, tapi lebih sopan. Kalau di Purwokerto, angkot sangat penuh. Kalau angkotnya sudah penuh, masih saja memaksa menaikkan penumpang. Kalau dimakassar tidak. Kalau sudah penuh, ya sudah.

Selesai berbelanja, aku berkunjung rumah kakak ke empat Ibu. Rumahnya  cukup jauh. Aku baru pernah bertemu dengan sepupuku dari keluarga itu.



langsung akrab


Aku pulang dengan tergesa-tergesa karena sore ini sepupuku berjanji mengajakku ke Trans Studio. Tapi begitu aku pulang sepupuku sedang pergi dengan istrinya. Terpaksa aku mengalah dan pergi ke Trans Studio hari Rabu dengan Ibu dan tanteku. Kami sampai jam 9 pagi dan menjadi pengunjung pertama. Sengaja kami datang pagi-pagi karena sore hari aku sudah akan pulang. Oke, Trans studio memang keren banget. Sayangnya, wahananya belum terlalu banyak seperti di Bandung dan dalam beberapa jam saja semua wahana sudah di coba.








ini masih pada pusing naik wahana di jelajah

mendadak jadi penakut dan nggak liat apapun didalam


Kami keluar jam 1 siang dan menuju rumah sepupu yang lain. lagi. Sore jam 5, aku sudah menuju bandara karena pesawat terbang menuju Jogja jam 7. Satu minggu yang sangat menyenangkan, semoga bisa kembali secepatnya.


Goodbye, Makassar!


You Might Also Like

0 komentar

Berikan komentarmu untuk tulisan ini, yuk!

Subscribe