Skip to main content

Highlight

Lebih Sakit Meninggalkan atau Ditinggalkan?

Cerpen: Aini dan Dipta

Detik tidak pernah melangkah mundur
Tapi kertas putih itu selalu ada
Waktu tidak pernah berjalan mundur dan hari tidak pernah terulang
Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru
Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab
(AADC Mini Drama)

Bagi Aini, pagi tidak pernah menawarkan cerita yang baru lagi.
Tidak pernah ada pertanyaan,
tidak pernah ada jawaban,
kala ia memeluk Dipta untuk terakhir kali di Bandara Adi Sucipto dua tahun lalu

“Oke kancamuda, sampai jumpa lagi minggu depan and see yaa..!”

Aini mengembuskan napas lega setelah siarannya berakhir pukul 19.50. Segera ia mengambil handpone di tasnya yang sudah ditinggalkan selama dua jam. Kosong. Tidak ada telepon atau sekadar pesan masuk dari operator. Lalu ia mengaktifkan paket data yang dimatikannya untuk menghemat baterai selama siaran. Sembari menunggu sinyalnya stabil, ia menata kertas-kertas materi siarannya yang berceceran di atas meja siaran. Maya yang seharusnya mengisi siaran selanjutnya belum kunjung datang. Suara handpone Aini berbunyi keroyokan, yang berasal dari BBM juga whatsapp. Segera dia mengecek aplikasi chat yang dimilikinya, berharap ada tawaran keluar yang menarik hati. Tetapi 85% chat tersebut berisi dari grup. Hanya adiknya yang mengajaknya keluar. Tidak perlu waktu lama bagi Aini berpikir untuk menolak ajakan adiknya nongkrong di salah satu kafe.

“Ainiiii, sori telaaat!!”

Maya medorong pintu kaca ruang callbox dengan nafas terengah-engah.

“Kok telat?”

“Tadi abis makan ama mas pacar.. Tuh orangnya masih di luar. Padahal belum selesai kencannya, huhu.”

Aini hanya tersenyum setengah bibir, “Yaudah sini aku gantiin siaran.”

“Hah seriusan In?? Emang kamu nggak ada acara keluar? Nggak ikut yang lain nonton Sheila On 7?”

Aini menggeleng dan meyakinkan Maya untuk meninggalkannya. Maya sebenarnya agak tidak enak, tetapi demi merajut kasih di malam minggu, Maya tega membiarkan Aini menggantikan tempatnya. Setelah menelpon pacarnya untuk tidak pergi dulu, Maya mengeluarkan beberapa lembar kertas HVS berisi materi siarannya, lalu mencium pipi kanan Aini sebagai tanda terima kasih.

“In, dia bukan satu-satunya laki-laki dalam hidupmu loh.”

Maya mengedipkan mata lalu berlari meninggalkan Aini.

“Eh jangan muterin lagu yang galau terus loh. Ntar ketahuan penyiarnya jomblo. Hahahaha!”

Sebelum menutup pintu Maya masih saja sempat menggoda Aini yang hanya dibalasnya dengan kata “sialan!”

Aini hanya menghela napas panjang menatap materi siaran Maya. Tentu saja ia ingin keluar tetapi hujan sejak pagi menghasilkan aroma petrichor dan membuat suasana malam minggu ini terlalu syahdu untuk dinikmati sendiri atau bersama teman-teman perempuannya. Konser Sheila On 7 yang sedang digelar di salah satu auditorium kampus membuat beberapa rekannya harus meliput dan sisanya memanfaatkan tiket gratis dari pihak panitia. Aini tentu penggemar Sheila On 7, tetapi mengingat Duta hanya akan membuat pedih hatinya dengan menyanyikan lagu-lagu galau, ia memilih tersungkur di sudut ruangan callbox. Sendiri.

Aini bergegas kembali duduk dan mulai mengatur iklan, juga menyusun playlist. Sudah pukul 20.13, lewat 13 menit dari jadwal siaran.

“Selamat malam minggu kancamuda, kembali lagi di program Malam Minggu Happy yang kali ini ditemani sama Aini.. Gimana nih malam minggu kancamuda? Sama siapapun dan di mana pun semoga happy yaaa.. baiklah lagu pertama yang akan Aini putarkan adalah Red dari Taylor Swift. Silakan yang mau kirim-kirim salam atau request lagu bisa langsung sms/telepon juga mention yaaa..”

Aini memandang ruang produksi dari kaca yang membatasi callbox. Segera ia membiarkan dirinya larut dalam internet dan membiarkan Taylor Swift bernyanyi. Aini bahkan sudah tidak dapat lagi menghitung hari ini adalah malam minggu keberapa yang dilaluinya sendiri, tanpa Dipta. Sejak Dipta pulang kembali ke Sumatera setelah lulus kuliah untuk bekerja di sana, Aini tidak membiarkan tempat kosong di hatinya berisi seseorang lagi.

Napas Aini hampir habis dan suaranya mulai serak setelah satu jam membiarkan suaranya didengar seluruh penghuni Yogyakarta. Ia baru sadar sudah empat jam mengeluarkan suara namun terlalu malas keluar ruangan untuk mengambil minum. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat-lihat lagu terbaru untuk dimasukkan ke playlistnya demi mengalihkan rasa haus, hingga ia dikagetkan oleh suara pintu terbuka.


“A hundred days have made me older..
Since the last time that i saw your pretty face..”

“But all the miles that separate.
Disappear now when i’m dreaming of your face..”


Aini tidak mempercayai kedua matanya atas siapa yang dilihatnya. Tetapi sosok itu memberi senyum terhangat yang masih dapat dirasakannya, lalu air mata menetes satu per satu namun cepat.

“Aini?”

Dipta memancarkan kebahagiaannya, melangkah pelan menuju Aini. Aini masih belum bisa berkata-kata, tetapi ia melangkah maju dengan seluruh tubuh gemetaran.

Aksi saling pandang layaknya Finn dan Rachel Berry saat berada di panggung menyanyikan lagu Pretending tak terhindarkan. Bedanya, tidak ada adegan ciuman yang terjadi selanjutnya. Hanya lagu Here Without You milik 3 Doors Down yang mengiringi pertemuan dua sejoli yang terpisah dua tahun lamanya. Hanya dua mata yang saling bertemu terus melepaskan seluruh kerinduan dengan seluruh tubuh yang tak bergerak.

“Bagaimana kamu bisa sampai di sini, Dipta?”

“Aku sudah ada di Jogja sejak kemarin dan besok aku akan pulang. Rasanya aku ingin sekali memencet nomormu tetapi tidak pernah sanggup.”

“Yang aku tanyakan, bagaimana kamu bisa sampai di sini, Dipta?”

“Aku selalu mendengar suaramu, Aini. Aku selalu bisa mendengarmu.”

Dipta datang untuk urusan kerjaan selama tiga hari dua malam. Jika ada waktu luang selama berada di Yogyakarta, Dipta terus memutar siaran radio yang pernah mempertemukannya dengan Aini. Hingga Dipta sampai pada malam ini, saat ia mendengar suara Aini. Perlu waktu berjam-jam untuk Dipta memutuskan menjemput cintanya. Aini nyaris memeras air matanya mengingat dua tahun lalu Dipta pergi tanpa memberi pertanyaan untuk dijawab atau pernyataan untuk ketegasan. Aini mengejar Dipta dan memeluknya erat sekali tetapi yang dipeluk hanya mencium kening dan menghilang.

“Maafkan aku, Aini.. Dulu aku tidak sanggup mengatakan selamat tinggal padamu. Juga, aku terlalu takut tidak bisa mempertahankanmu saat hubungan kita berjarak.”

“I’m here without you baby
But you’re still on my lonely night
I think about you baby
And i dream about you all the time

I’m here without you baby
But you’re still with me in my dreams
And tonight girl, it’s only you and me..”

“Aini, mungkin aku pernah pergi. Tapi sesungguhnya tidak dengan cintaku. Besok aku pulang Aini, tapi tidak akan seperti dulu lagi.. Aku akan meninggalkan pertanyaan, Aini..”

“Apa?”

“Maukah kau menikah denganku ketika saatnya tiba?”

“Kamu menyuruhku menunggumu lagi?”

“Tidak Aini, aku menyuruhmu untuk setia padaku.”

Mereka memperdebatkan banyak hal. Saling menyudutkan penuh maaf. Saling egois tentang siapa yang paling merindu. Saling berebut siapa yang paling mencinta.

Waktu menjawab segala hal.
Apakah cinta menghilang atau tumbuh semakin mekar.

“Baiklah, supermanku Dipta. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan jawaban. Aku akan memberimu pernyataan. Aku mau menikah denganmu ketika saatnya tiba nanti. Untuk itu kembalilah.”

Aini dan Dipta hanya tersenyum dengan mata memancarkan cinta yang kemudian berubah menjadi tawa. Dipta mengulurkan tangan yang disambut Aini. Kemudian mereka menghabiskan sepanjang malam mengenang kisah mereka dengan mengudara bersama.

Aini pernah ditinggalkan
Dipta pernah meninggalkan
Tetapi cinta begitu suci
Tidak ada dusta dan dendam

Dan cinta akan selalu menjadi pengikat untuk ribuan kilometer yang terselip antara dua manusia

***

Cerpen ini adalah hadiah ulang tahun untuk sahabat tersayang Aini.
Selamat ulang tahun ke-22 Aini.
Semoga kamu selalu mendapat yang terbaik dalam hidupmu.
Dan kamu sudah mendapat salah satu yang terbaik itu: Dipta.

Salam sayang,
Elga dan Tondo.
x

Comments